Archive for September, 2006

Sop konro

konro
Bahan:
1 kg iga sapi, potong-potong
2 ltr air
2 cm kayu manis
3 butir cengkeh
3 cm lengkuas, dimemarkan
2 lembar daun salam
2000 ml air
3 sdm minyak goreng untuk menumis
½ sdm garam
5 butir bawang merah, iris tipis
2 sdm air asam jawa
Bumbu Halus :
5 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1 sdt merica bulat
½ sdt pala
2-3 buah lkuwek, ambil dagingnya
50 gr kacang merah direbus matang
1¼ sdm garam

Cara membuat:
1. Rebus iga, kayumanis, cengkeh, daun salam, lengkuas, garam dan air asam jawa.
2. Tumis bumbu halus dan bawang merah iris hingga harum.
3. Tuang tumisan bumbu ke dalam rebusan iga dan masak sampai bumbu meresap dan iga matang.
4. Sajikan panas dengan sambal dan air jeruk nipis

Sumber : Resep kita

Add comment September 30, 2006

Coto Makassar

coto2.jpg
Bahan I:
150 gr daging sangkle
150 gr babat sapi
150 gr usus sapi
150 gr limpa sapi
100 gr paru sapi
100 gr hati sapi
2 batang serai
4 cm lengkuas, memarkan
1500 ml air cucian beras yang ketiga kali
500 ml susu cair
2 sdt garam
2 sdt gula pasir
2 sdm kacang tanah, haluskan kasar
minyak goreng secukupnya

Bahan II(dihaluskan):
8 buah bawang merah
2 siung bawang putih
1 sdm ketumbar, sangan
1 sdt lada utuh
2 sdm tauco
4 buah cabai rawit merah

Bahan III:
3 sdm bawang goreng
3 buah jeruk nipis

Sambal (dihaluskan dan ditumis):
3 buah cabai merah
10 buah cabai rawit
2 siung bawang putih
5 buah bawang merah
2 sdm tauco
50 ml minyak goreng

Cara membuat:
1. Rebus semua bahan I, kecuali susu, hingga empuk dengan api kecil.
2. Tumis bumbu yang dihaluskan, hingga harum dan matang. Kemudian masukkan dalam rebusan daging, masak kembali hingga empuk dan matang.
3. Masukkan susu cair, masak kembali hingga mendidih sambil diaduk-aduk.
4. Sajikan dalam mangkuk, tambahkan bawang goreng, air jeruk dan satu sendok teh sambal.

Untuk 2 porsi

Sumber : Tabloid Nova

Add comment September 30, 2006

Bulan kemenangan

oleh : Adian Husaini

gerbang2.jpgRepublika 30/09/06 Salah satu peristiwa penting yang dialami oleh Rasulullah SAW adalah kemenangan dalam Perang Badar. Perang ini terjadi di bulan Ramadhan, dengan kekuatan pasukan yang sangat tidak berimbang. Jumlah pasukan Quraisy sekitar 1.000 orang, dengan 100 pasukan berkuda dan 700 onta. Mereka dilengkapi dengan aneka makanan dan wanita-wanita penghibur. Sementara jumlah pasukan Islam hanya 315 orang, dengan perlengkapan yang sangat terbatas. Pasukan Islam dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan kendaraan perang hanya dua ekor onta.

Ketika itu, setelah segala persiapan secara matang dilakukan, Rasulullah SAW dengan khusyuk memanjatkan doa kepada Allah SWT: “Ya Allah kaum Quraisy telah datang dengan kesombongan, permusuhan kepada-Mu, dan menyalahi perintah-Mu serta mendustakan Rasul-Mu. Maka, pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan, yang aku harapkan. Ya Allah hancurkanlah mereka esok hari.”

Sepanjang peperangan, di samping terus memimpin dan mengobarkan semangat juang kaum Muslim, Nabi Muhammad SAW juga tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT. Kesungguhan, keteguhan iman, jitunya strategi yang diterapkan oleh Rasulullah SAW, serta `ketergantungan’ dan `kepasrahan’ hanya kepada Allah SWT menjadi penentu kemenangan kaum Muslimin.

Kemenangan umat Islam dalam Perang Badar itu dipilih Allah terjadi di bulan Ramadhan. Bulan kemenangan. Di bulan ini juga terjadi peristiwa Futuh Makkah (Pembebasan Kota Mekkah) oleh kaum Muslimin. Rasulullah SAW yang memimpin langsung pembebasan ini kemudian memberikan ampunan massal untuk penduduk Mekkah, kecuali kepada beberapa orang yang masuk `daftar hitam’. Tidak ada pembantaian massal seperti biasa dilakukan oleh penguasa-penguasa lain ketika menaklukkan satu negeri, ketika itu. Padahal, selama berpuluh tahun kaum kafir Quraisy telah melakukan berbagai tindakan yang sangat keji kepada Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.

Kemenangan adalah anugerah Allah. Pertolongan Allah akan datang ketika kaum Muslim memenuhi syarat-syarat yang ditentukan Allah berupa keimanan yang kokoh, kesungguhan, kerja keras, profesionalitas, ketawakalan, dan doa yang tulus hanya kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk meraih kemenangan. Di bulan inilah amal pahala dilipatgandakan dan doa-doa dikabulkan. Di tengah berbagai bencana, musibah, azab, dan ujian yang menimpa bangsa Indonesia, sudah saatnya kaum Muslimin melakukan evaluasi (muhasabah) atas keimanan dan sikap mereka kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Tidaklah mungkin pertolongan dan kemenangan akan diberikan, jika kaum Muslim masih memelihara tindakan syirik dan kesombongan: lebih taat kepada kekuatan lain, ketimbang kepada Allah; lebih takut kepada bangsa lain, ketimbang kepada Allah; dan lebih taat kepada hawa nafsu, ketimbang kepada tuntunan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.

(Adian Husaini )

Add comment September 30, 2006

Momentum peningkatan tiga kecerdasan

Oleh : KH Didin Hafidhuddin

didin.jpgRepublika 30/09/06 Salah satu doa yang selalu dibaca oleh Rasulullah SAW apabila memasuki bulan Rajab adalah: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab, keberkahan di bulan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan.” Melalui doa ini, Rasulullah mengingatkan kita betapa bulan Ramadhan itu, bulan yang harus senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya oleh orang-orang yang beriman.

Bulan Ramadhan itu, di samping bulan ibadah yang memanen pahala, sekaligus bulan latihan untuk membangun jati diri orang yang beriman, untuk ditingkatkan menjadi orang yang bertakwa, yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, yang sangat dibutuhkan dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Paling tidak ada tiga kecerdasan yang perlu ditumbuhkan melalui latihan-latihan selama ibadah di bulan suci Ramadhan. Pertama, Kecerdasan emosional. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri dalam merespons berbagai macam keadaan. Pengendalian diri ketika mencintai dan membenci sesuatu supaya tidak berlebih-lebihan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda: “Cintailah sesuatu itu (orang yang kamu cinta) secara sederhana, karena boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika, dan bencilah sesuatu itu (orang yang kamu benci), secara sederhana, karena boleh jadi engkau akan cinta padanya suatu ketika.”

Pengendalian diri ketika berhadapan dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita atau mungkin berseberangan dengan kita, untuk tetap menganggap mereka sebagai saudara sesama anak bangsa. Bahkan dengan sikap ini diharapkan budaya saling memaafkan akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah puasa itu hanya (menahan diri) dari makan dan minum saja. Sesungguhnya puasa itu (meninggalkan) perbuatan yang tidak ada gunanya, dan ucapan kotor. Jika ada seseorang yang menghinamu, membodoh-bodohkanmu, maka katakanlah bahwa aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa (tiga kali).”

Kecerdasan emosional semacam itu, akan mengikis sifat saling dengki-mendengki antara sesama anak bangsa, antara suku dan etnis, bahkan antarpemeluk agama yang berbeda. Dengan kecerdesan ini, diharapkan kita dapat melaksanakan tiga hal yang disebut dengan afdhalul fadhail (perbuatan yang paling utama di antara yang utama), yaitu: bersilaturahmi dengan orang yang memutuskannya, memberi pada orang yang tidak pernah memberi, dan memaafkan orang yang berlaku kurang baik pada kita. (HR Imam Thabrani dari Mu’adz bin Jabal).

Kedua, kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini berkaitan dengan arah dan tujuan hidup yang jelas, yaitu bukan semata-mata ingin mendapatkan jabatan dan materi yang sebanyak-banyaknya, sehingga mempergunakan dan menghalalkan berbagai macam cara. Akan tetapi, juga kebahagiaan yang bersifat ruhaniyah yang dilandasi dengan ajaran agama. Kejujuran, keadilan, jauh dari budaya dan perilaku syirik yang ditanamkan melalui ibadah shaum, akan menghantarkan pada kenikmatan hidup yang hakiki, dan kecerdasan spiritual yang tinggi.

Setiap orang akan merasakan betapa jujur, adil dan amanah adalah sesuatu yang sangat indah dan sangat nikmat. Hidup akan terasa gersang dan hampa apabila tidak dibingkai oleh sifat-sifat tersebut. Rakus, tamak, dan korup pasti akan selalu dijauhkan dalam kamus kehidupan orang yang memiliki kecerdasan spiritual, karena ia sadar, bahwa kerakusan dan ketamakan akan membawa pada kefakiran. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Nabi SAW dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani: “Jauhilah oleh kalian sifat tamak (rakus), karena sesungguhnya sifat ini (tamak/rakus) adalah kemiskinan yang nyata.”

Kecerdasan spiritual akan membawa pula pada sikap berpikir untuk senantiasa membawa ajaran agama dalam seluruh tatanan kehidupan. Tidak ada dikotomi dan tidak ada sekularisasi dalam kehidupannya. Semua harus terkait dengan ketentuan Allah SWT. Ketika beraktivitas di masjid, di pasar, di kantor-kantor pemerintahan, di kampus, di jalan raya, maupun di dalam keluarga. Hal ini sejalan pula dengan firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 208 yang artinya: “Hai sekalian orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang sangat nyata.”

Ketiga, kecerdasan sosial. Kecerdasan dalam pengertian selalu memiliki rasa empati, simpati dan selalu ingin menolong orang yang mendapatkan kesulitan dalam kehidupannya. Kecerdasan sosial ini, akan mengikis habis sifat egois, kikir dan materialis, dan digantinya dengan sifat kedermawanan. Ibadah shaum melatih dan mengajarkan seseorang untuk merasakan betapa beratnya haus dan lapar itu. Padahal haus dan laparnya orang yang berpuasa bersifat sementara dan terbatas, yaitu mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Bagaimana halnya dengan orang yang sepanjang hidupnya merasakan lapar, haus dan dahaga? Tidaklah pantas membiarkan mereka dalam keadaan lapar dan haus tersebut secara terus-menerus. Ibadah shaum menanamkan, bahwa kita adalah bagian dari mereka dan mereka pun adalah bagian dari kita. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Engkau akan melihat orang-orang yang beriman dalam kasih sayang mereka, dalam kecintaan mereka dan dalam keakraban mereka antar sesamanya adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka sakitnya itu akan merembet ke seluruh tubuhnya, sehingga (semua anggota tubuhnya) merasa sakit, dan merasakan demam (karenanya).”

Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, yang terimplementasikan dalam sikap kedermawanan, akan mendapatkan anugerah kedekatan atau takarrub dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia. Dan sebaliknya, orang yang asosial dan bakhil akan mendapatkan adzab, jauh dari Allah dan jauh dari manusia. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda: “Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil (bodoh) tapi pemurah, itu lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah tapi bakhil.”

Selamat menunaikan ibadah shaum. Semoga akan dapat meningkatkan kualitas kecerdasan kita, sehingga kita akan semakin mampu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang semakin hari semakin kompleks dan semakin berat. Wallahu A’lam bi ash-Shawab

Add comment September 30, 2006

Kisah Para Penghuni Goa

quranRepublika 30/09/06 Menurut kepercayaan yang umum, para penghuni gua it yang dipuji baik oleh sumber Islam maupun Nasrani, adalah korban dari tirani uyang kejam dari decius, kaisar romawi

Surat ke-18 Alquran yang dinamakan Al Kahfi yang berarti gua, menceritakan tentang sekelompok pemuda yang berlindung di sebuah gua untuk bersembunyi dari penguasa yang mengingkari Allah dan melakukan penindasan dan ketidakadilan atas mereka yang beriman.

Menurut kepercayaan yang umum, para penghuni gua itu yang dipuji baik oleh sumber Islam maupun Nasrani, adalah korban dari tirani yang kejam dari Decius, kaisar Romawi. Karena menghadapi penindasan dan kesewenang-wenangan Decius, para pemuda ini memperingatkan kaumnya berulang kali untuk tidak meninggalkan agama Allah.

Ketidakacuhan kaum mereka terhadap penyampaian risalah tersebut, meningkatnya penindasan kaisar, dan ancaman pembunuhan terhadap mereka, mem-buat mereka meninggalkan tempat tinggal mereka.

Sebagaimana dibenarkan dokumen-dokumen sejarah, pada saat itu, banyak kaisar yang melaksanakan kebijakan teror, penindasan, dan kesewenang-wenangan secara meluas terhadap mereka yang memegang agama Nasrani yang awal dalam bentuknya yang asli dan murni.

Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, ia merujuk sekelompok Messiah (Nasrani) yang dihukum karena menolak menyembah patung kaisar. Surat ini adalah salah satu dokumen terpenting yang menyebutkan penindasan yang menimpa orang-orang Nasrani pada masa awalnya.

Dalam situasi demikian, para pemuda ini, yang diperintahkan untuk tunduk kepada sistem yang non-agamis dan untuk menyembah kaisar sebagai tuhan selain Allah, tidak menerima ini dan berkata: Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (QS Al Kahfi [18]: 14-15).

Lokasi gua
Sehubungan dengan daerah tempat tinggal para penghuni gua, terdapat beberapa pandangan yang berbeda. Di antaranya yang paling bisa diterima akal adalah daerah Ephesus dan Tarsus. Hampir semua sumber Nasrani menunjuk Ephesus sebagai lokasi dari gua tempat para pemuda beriman ini berlindung.

Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Alquran bersepakat dengan kaum Nasrani tentang Ephesus. Beberapa lainnya, menerangkan dengan terperinci bahwa tempat itu bukanlah Ephesus, dan kemudian berusaha untuk membuktikan bahwa kejadiannya adalah di Tarsus. Walau begitu, semua peneliti dan pengamat, termasuk kalangan Kristen mengatakan bahwa kejadian tersebut berlangsung pada masa Kaisar Romawi Decius (disebut juga sebagai Decianus), sekitar tahun 250 M.

Decius, bersama dengan Nero, dikenal sebagai kaisar Romawi yang menyiksa kaum Nasrani dengan amat kejam. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, ia mengesahkan suatu hukum yang memaksa semua orang di bawah kekuasaannya untuk melakukan persembahan terhadap dewa-dewa Romawi. Setiap orang diwajibkan untuk melakukan persembahan ini dan lebih jauh lagi, mendapatkan sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melakukannya, yang harus mereka tunjukkan kepada petugas pemerintahan. Mereka yang tidak patuh akan dihukum mati.

Sumber tertua tentang hal ini adalah pendeta Suriah bernama James dari Saruc (lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka, Gibbon, banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi). Menurut buku ini, nama kaisar yang menyiksa ketujuh pemuda Nasrani yang beriman tersebut dan memaksa mereka bersembunyi di dalam gua, adalah Decius. Decius memerintah Kekaisaran Romawi antara tahun 249-251 M dan masa kekuasaannya dikenal luas dengan penyiksaan yang ia lakukan terhadap para pengikut Isa (Jesus).

Menurut para pengamat Islam, daerah tempat terjadinya peristiwa itu adalah Aphesus atau Aphesos. Menurut Gibbon, nama tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia, kota ini merupakan salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari kekaisaran Romawi. Saat ini, reruntuh-an kota ini dikenal sebagai Kota Antik Ephesus.

Ruangan dalam dari gua yang terdapat di Ephesus yang diperkirakan menjadi satu diantara gua yang dihuni para Penghuni Gua. Nama kaisar yang memerintah di masa para Penghuni Gua terba-ngun dari tidur mereka yang panjang adalah Tezusius menurut para peneliti Muslim, dan Theodosius II menurut Gibbons. Kaisar ini memerintah antara tahun 408-450 M, setelah kekaisaran Romawi berubah memeluk agama Nasrani.

Dengan merujuk kepada ayat di bawah ini, dalam beberapa tempat disebutkan bahwa pintu masuk gua menghadap ke utara, sehingga sinar matahari tidak dapat masuk. Dengan demikian, orang yang melewati gua tidak dapat melihat sama sekali apa yang ada di dalamnya. Ayat Al Quran yang berkaitan dengan hal ini mengatakan: Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.(QS Al Kahfi [18]: 17).

Add comment September 30, 2006

Assalamu’alaikum ! aga kareba !

Selamat datang di blog Jalan Sekolah 20.

Ini adalah blog keluarga Jalan Sekolah 20, merupakan catatan pelengkap milis Jalan Sekolah 20.

Kalaulah memberi manfaat, silakan dinikmati.

wassalaam, tabe di’

Moderator milis jalan sekolah

1 comment September 29, 2006


Calendar

September 2006
S S R K J S M
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Posts by Month

Posts by Category