Archive for Oktober 4th, 2006

Puasa Membawa Implikasi bagi Kesehatan Jiwa

Muslim yang tak berpuasa mengalami gejala penyimpangan.

512443165.jpgRepublika 04/10/06 Menjalankan ibadah puasa ternyata bukan hanya sekedar melaksanakan kewajiban kita terhadap perintah Allah SWT. Lebih dari itu, melakukan ibadah ini, juga membawa implikasi besar bagi sisi kejiwaan pelakunya.

Menurut psikolog kondang, Sartono Mukadis, ibadah puasa yang identik dengan konsep pengendalian diri, akan membawa pengaruh lebih besar lagi terhadap kehidupan pelakunya jika dilakukan dengan benar. Dari sisi psikologis, kata dia, kemampuan mengendalikan diri akan menimbulkan perasaan bangga pada pelakunya bahwa ia telah mampu mengatasi dirinya. Meski alasan ini terdengar klasik, jelas Sartono, namun sebenarnya perasaan ini benar-benar dirasakan oleh mereka yang puasanya betul.

”Mengapa perasaan itu muncul? Karena puasa itu kan ada aturannya, dan ketika kita bisa melakukannya, sementara terbuka peluang untung melanggarnya, disitulah perasaan itu timbul,” jelasnya. Menurut Sartono, sebenarnya, bisa saja seserorang yang tengah berpuasa itu berbohong atau berpura-pura. Tapi, ketika ia tidak melakukan itu, ia berhasil mengendalikan dirinya. Dan lebih jauh, jelasnya, bagi orang yang puasanya benar (dalam arti bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga), konsep pengendalian diri ini akan berefek pada perilaku keseharian. ”Dia akan bisa mengendalikan diri untuk tidak korupsi, tidak melakukan kejahatan, atau kemaksiatan lainnya,” katanya.

Dengan puasa, kita belajar untuk tidak mencari alasan, pembenaran diri, dan pengecualian yang bisa membatalkan puasa. ”Karena, baik bagi negara ataupun individu, segala bentuk pembenaran diri dan pengecualian merupakan pangkal segala kehancuran,” ungkap Sartono. Selain menyatakan bahwa puasa membawa pengaruh besar bagi kejiwaan pelakunya, Sartono juga menyebut bahwa seorang Muslim yang tidak berpuasa (tanpa ada alasan) mengalami gejala penyimpangan. ”Dari sisi kesehatan jiwa, mereka yang tidak berpuasa itu bisa dikatakan jiwanya terganggu,” jelasnya.

Dari aspek psikologi, jelas Sartono, kecuali orang itu seorang psikopat atau sosiopat, orang yang tidak berpuasa itu mengalami gangguan. Disebut gangguan karena mereka melanggar aturan yang memang sudah ditetapkan. Sartono menjelaskan, dalam jiwa orang-orang normal, tertanam dalam dirinya norma-norma yang mengikat kehidupannya. Dan jika norma itu dilanggar, jiwa pelakunya akan mengalami guncangan.

”Bagaimanapun kita memiliki habit, believe, sehingga ketika melanggar itu akan menimbulkan goncangan. Kok nggak puasa ya?, padahal sebagai seorang Muslim itu wajib,” katanya. Maka untuk mengatasi perasaan bersalah itu, pelakunya akan memunculkan sikap defensif. Mereka mencari berbagai alasan untuk dijadikan pembenaran. Meski demikian, kata Sartono, hati nurani pelaku tidak akan tenang dengan segala kebohongan yang dilakukannya.”Namun satu hal yang pasti, perilaku tersebut justru menunjukkan dengan jelas bahwa ia memiliki kepribadian yang lemah,” tandasnya. uli

Add comment Oktober 4, 2006


Calendar

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category