Archive for Oktober 10th, 2006

Kilas balik minggu awal Oktober 1985.

 

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka, sebagaimana mereka menyangiku sewaktu aku masih kecil. 

1. Cerita Coling

Senin, 7 Oktober jam 17.00 Di Parepare, bapak menonton televisi acara kegemaran Tim Bulutangkis Indonesia. 

Senin, 7 Oktober jam 19.30 Bapak tidak sadarkan diri akibat serangan stroke.

Selasa, 8 Oktober jam 3.30 Bapak dibawa ke Makassar dengan mobil ambulance kak Armin. 

Selasa, 8 Oktober jam 6.00Bapak tak sadarkan diri masuk  RS. Pelamonia  Makassar. Setelah itu, saya tak tahu lagi karena saya hanya terus di Kandea dan tak pernah ke rumah sakit lagi. 

Jum’at, 11 Oktober jam 13.00Masuk telepon di jalan kandea 35 B Makassar. Penelepon meminta pesan disampaikan ke kak Hasmi, mengabarkan kalau tensi bapak turun drastis dari 200-an menjadi 90. Kak Hasmi seketika meloncat dari tempat tidur, sambil teriak ,“Semua harus berangkat ke rumah sakit Pelamonia sekarang juga !“. 

Jum’at, 11 Oktober jam 13.30Bapak terbaring lemah di rumah sakit dan tensi-nya semakin menurun. 

 Jum’at, 11 Oktober jam 16.00 Semua yang memeriksa tensi bapak selalu geleng-geleng kepala karena angka bacaan air raksa semakin kecil. Bapak tetap terbaring semakin lemah.

Jum’at 11 Oktober jam 17.00Saya diminta mama mendekat di samping bapak. Saya tak kuasa melihat bapak terbaring sangat lemah. Dalam hati terucap do’a  “ Ya Allah yang maha berkehendak, kuikhlaskan kepergian bapak.“  

Jum’at 11 Oktober jam 20.12Bapak pergi untuk selamanya.    

Innsbruck, 10 Oktober 2006.

2. Cerita Gen  

Senin, 7 Oktober 1985 Pkl 17.30 (kira-kira Bapak abis nonton Bulutangkis)
Saya main di halaman rumah jl.sekolah, saya lihat Bapak duduk di teras rumah.

Senin, 7 Oktober 1985 Pkl 19.30 Kita semua pada Lihat Bapak sakit, semua agak panik sampe saya ketiduran di ranjang besi berkelambu di kamar tengah.  

Selasa, 8 Oktober 1985 Pkl 03.00 Saya terbangun melihat orang dikamar semakin rame.
Yang saya ingat jelas,
Hapsa (adiknya kak Azis) ketiduran di sebelah saya, ada beberapa orang lagi
lagi yg tidur, tapi saya tidak ingat satu-persatu.
Akhirnya Bapak di bawa ke Makassar degan Ambulance
 

Jumat, 11 Oktober 1985 Pkl 20.30 Kita semua abis nonton Sinetron ACI, Aku Cinta Indonesia di TVRI. Dirumah
ada Tante Joha, Nene Sia, Tante Ju Sekeluarga.
Tiba-Tiba Tante Taha dan Haji Haseng/ Wa Laceng(H.Hasyim) datang Kasi kabar kalo Bapak sudah Meninggal.Rupanya Informasi dari Makassar tidak diberitahukan melalui telp 21043, tapi melalui telp di rumah tante Taha. Biar Beritanya Tidak Bikin Kaget.Tante Joha Tiba-Tiba Histeris. Besoknya pas bangun Tidur, rumah sudah rame degan orang-orang.

Hari ini tepat 21 Tahun sudah, Rasanya masih
beberapa tahun yg lalu.
  

Jakarta, 11 Oktober 2006

1 comment Oktober 10, 2006

Alquran dan Spirit Kebudayaan Modern

Oleh Zezen Zaenal M

quran1.jpgRepublika 10/10/06 Bulan Ramadhan dipenuhi oleh peristiwa luar biasa bagi umat Islam. Salah satunya adalah pewahyuan Alquran pada malam tanggal 17 Ramadhan untuk pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW. Bagi umat Islam, Alquran adalah mukjizat teragung bagi kenabian Muhammad SAW dan kemanusiaan.

Alquran juga adalah kitab suci yang unik. Keunikannya akan terlihat kalau kita mengetahui bahwa Alquran diwahyukan kepada Muhammad SAw pada fase transisi kebudayaan dalam sejarah manusia. Muhammad SAW, sang nabi yang menerima pewahyuan Alquran, menurut Muhammad Iqbal, pemikir Pakistan abad ke 19, adalah seorang nabi yang berdiri di antara dunia kuno dan dunia modern.

Dilihat dari sumber dan cara pewahyuannya, apa yang diterima Muhammad SAW sepenuhnya merupakan bagian dari tradisi kebudayaan kuno yang terbentang dari Adam hingga Yesus. Tapi dilihat dari spirit, semangat dan api pewahyuannya, apa yang diterima Muhammad SAW adalah awal atau bagian dari tradisi kebudayaan modern.

Dalam Islam, kenabian Muhammad SAW mencapai puncak kesempurnaannya dalam penemuan kebutuhan penghilangan tradisi kenabian itu sendiri. Artinya, setelah Muhammad SAW, Tuhan tidak lagi secara langsung menuntun manusia lewat pewahyuan pada seseorang individu. Tuhan bahkan tidak mewakilkannya pada sekelompok orang, seperti kelas ulama atau pendeta. Setiap manusia dibiarkan sendiri menyingkap realitas kehidupan berdasarkan tanda-tanda atau petunjuk (ayat) yang telah diturunkan-Nya. Dan kenabian berakhir sampai di sini.

Lahirnya Muhammad SAW dan turunnya Alquran menandai dimulainya penemuan dan pengembangan sumber pengetahuan baru bagi kebudayaan manusia. Sumber pengetahuan baru itu adalah kesadaran induktif (inductive intellect) yang kelak memegang peran amat penting bagi peradaban manusia. Alquran berulang-ulang menekankan pentingnya manusia merenungkan keberadaan alam sekitar.

Kita disuruh memperhatikan dan meneliti bagaimana malam dan siang datang silih berganti, miliaran bintang tak bertabrakan, gunung dipancangkan, lautan dihamparkan, waktu, cahaya, dan beragam fenomena alam lainnya sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Hal yang disebutkan tadi dengan jelas disebutkan oleh Alquran sebagai salah satu bagian dari tiga sumber pengetahuan manusia: jiwa (anfus, self), alam raya (afaq, nature),dan sejarah (QS 41:53).

Semangat induktif Alquran inilah yang memberikan corak baru dalam perkembangan kebudayaan manusia. Islam dari awal hadir bersifat terbuka. Karena itu, Islam membuka dialog dengan kebudayaan lain seperti kebudayaan India, Persia, Romawi, Yunani dan lain-lain. Di antara kebudayan-kebudayaan itu, yang amat terasa peranannya adalah kebudayaan Yunani, terutama tradisi filsafat dan pemikirannya.

Sejak Alkindi, filsuf muslim awal, menerjemahkan karya-karya pemikir Yunani, kegairahan para pemikir Muslim pada kebudayaan ini begitu menggelora. Namun, para pemikir Muslim menemukan adanya kontradiski antara corak pemikiran Yunani dan spirit Alquran. Tradisi filsafat Yunani terlalu menekankan aspek-aspek teoritik spekulatif idealistik dan cendrung mengesampingkan realitas faktual.

Pandangan Plato bahwa dunia yang hakikat adalah dunia idea, sementara dunia yang real bersifat skunder dan tak lebih dari penampakan semata, menyebabkan penghargaan pada teori-teori spekulatif idealistik menjadi utama. Bahkan dalam pemikiran Aristotelian yang sering dijadikan rujukan madzhab empiris, sampai sebelum Islam datang, nuansa dan corak idealistik masih begitu terasa.

Kontradiksi inilah yang menyebabkan terjadinya revolusi corak dan pemikiran filsafat Islam awal. Kultur budaya Yunani tetap diapresiasi dan dikembangkan sembari mengukuhkan corak baru, yakni corak pemikiran induktif. Karena itu, tak aneh, segera setelah para pemikir Muslim mendialogkan pemikiran Yunani dan ajaran Alquran, kebudayaan Islam mencapai masa kegemilangan.

Pemikiran rasional-idealistik (anfus)dan penemuan serta penelitian empirik (afaq) berjalan berbarengan dan saling mendukung. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Ilmu optik, astronomi, obat-obatan dan dunia kedokteran, sosiologi, matematika, kimia, biologi dan lain-lain mencapai tahapan yang sangat mengagungkan untuk ukuran saat itu. Nama besar seperti Ibnu Miskawaih, Al Khawarizmi, Al Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd dan lain-lain muncul di percaturan dunia.

Kondisi sekarang
Kondisi umat Islam sekarang tak lagi demikian. Seruan kembali pada Alquran untuk mengobati keterbelakangan Islam, belakangan terkesan amat jargonis. Umat Islam, dengan kegemilangan masa lalu, menjadi umat yang apologetik. Alih-alih melakukan penyelidikan ilmiah terhadap alam sebagai bagian dari ketundukan dan ibadah pada Tuhan, umat Islam kini sibuk melakukan klaim-klaim apologetik. Ketika teori Big Bang ditemukan oleh Barat, misalnya, umat Islam sibuk mencari rujukan dalam Alquran. Setelah ayat yang sedikit mirip ditemukan (QS 21:30), dengan tanpa malu kemudian akan mengkalim bahwa Islam telah menemukan teori itu 14 abad lalu. Hal serupa juga terjadi pada banyak penemuan modern lainnya.

Keyakinan bahwa Alquran adalah sumber pengetahuan manusia tidak dibarengi oleh kesadaran bahwa jiwa, alam raya, dan sejarah juga adalah sumber pengetahuan yang berharga. Meneliti Alquran, alam raya, jiwa, dan sejarah, dengan demikian memiliki derajat ibadah yang sama. Kesemuanya adalah ayat-ayat Tuhan (tanda-tanda kebesaran-Nya). Alquran adalah ayat qur’aniyah, sementara jiwa, alam raya, dan sejarah adalah ayat kauniyah. Karena itu, baik ahli Alquran maupun ahli jiwa, fisikawan, ahli biologi, ahli sejarah, dan lain-lain adalah ulama (orang yang mendalam ilmunya).

( )

Zezen Zaenal M adalah Lulusan Fakultas Syari’ah UIN Jakarta. Bekerja di Lembaga Survei Indonesia.

Add comment Oktober 10, 2006

Kebenaran Alquran

Oleh Tarmizi Taher

ngaji.jpgRepublika 10/10/06 Kurang lebih pada 15 abad silam, di hening malam sepi bulan Ramadhan, terjadi pelantikan yang amat suci dan agung. Hanya akal dan ruhani yang bersih dan kuat yang mampu dilantik untuk tugas kerasulan akhir zaman itu. Dialah sosok Nabi Muhammad SAW. Yang melantik adalah Malaikat Jibril, yang sebelum itu telah melantik nabi-nabi pendahulu.

Setiap rasul yang menyampaikan ajaran Allah SWT, selalu dilengkapi dengan mukjizat yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan kaum masing-masing. Tujuan utamanya adalah untuk membuktikan kebenaran kerasulan mereka di tengah umatnya.

Misalnya, Nabi Musa yang diutus kepada kaum Fir’aun yang terkenal sangat maju dalam ilmu sihir dan bangunan, diberi tongkat sakti sebagai mukjizat. Seluruh tukang sihir Fir’aun akhirnya mengakui kelemahan mereka dan menyatakan Musa mempergunakan tongkatnya bukan dengan sihir, tetapi dengan kekuatan yang dilimpahkan Allah kepadanya dari alam gaib.

Kemudian, mereka mau diajak beriman kepada Allah SWT. Sedangkan Nabi Isa, bangkit di masa berkembangnya ilmu kedokteran. Nabi Isa menghadapi kaum yang tunduk kepada hukum-hukum kebendaan dan tidak mengakui apa yang ada di luar alam kebendaan. Nabi Isa diutus Allah SWT untuk membuktikan, bahwa ada sesuatu di luar alam benda ini, yaitu alam ruh. Tuhan membuktikan itu dengan kelahirannya dan kesanggupannya menghidupkan orang yang sudah mati, serta menyembuhkan orang yang buta dan lepra.

Mukizat Nabi Muhammad
Sebagai rasul akhir zaman, Nabi Muhammad SAW diberi Mukjizat yang sifatnya khusus dan berbeda. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga dikarunia mukjizat seperti nabi lain yang bersifat fisik dan sesaat. Namun, hal itu hanya dapat disaksikan dan diuji oleh mereka yang hidup saat kejadian itu saja.

Mukjizat khusus yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, haruslah mukjizat yang dapat disaksikan dan diuji sampai akhir zaman, baik bahasanya maupun isinya. Oleh karena itu, Allah Maha Mengetahui, memberi mukjizat berbentuk kitab yang tertulis untuk dapat diuji dan dikaji, baik bagi mereka yang percaya maupun mereka yang tidak percaya.

Alquran adalah pusat kehidupan. Sesaat setelah seorang Muslim lahir, ayahnya membisikkan di telinganya kalimah syahadat dan takbir dalam azan atau iqamat. Seringkali, nama anaknya pun diambil dari Alquran. Setelah mulai bisa bicara, si kecil yang masih terbata-bata itu umumnya telah mencoba menirukan kata amin atau ayat shalat yang tengah dibaca orang tuanya.

Kemudian, ketika menginjak usia 7 tahun, berkali-kali dalam sehari si Muslim kecil ini membaca surat Al Fatihah dalam shalatnya. Bacaan itu mungkin belum sempurna, tetapi telah dilaksanakan dengan penuh kesenangan dan kegembiraan. Banyak Muslim ketika masih berumur remaja mendambakan untuk khatam belajar membaca Alquran.

Saat hari bahagia pernikahan si Muslim, sebelum dan sesudah acara akad nikah dengan calon istrinya, penghulu juga membaca Alquran. Akhirnya, saat akan meninggal dunia dan setelahnya pun, Alquran dibacakan untuk mendampingi dan mengantarkan serta memudahkan perjalanan akhir hidup si Muslim. Dengan demikian, tampaklah bagi si Muslim bahwa Alquran adalah serat yang membentuk tenun kehidupannya, dan ayat-ayat Alquran adalah benang yang menjadi rajutan jiwanya.

Proses pembuktian
Prof Dr Roger Garaudy dan Dr Maurice Bucaille di Perancis pernah mengkaji dan menguji Alquran dari segi isinya. Di antaranya, Maurice Bucaille mencoba menguji berapa jauh kebenaran ilmiah ayat-ayat yang bersangkutan dengan proses kejadian manusia dalam Surat Al Hajj ayat 5. Dr Maurice Bucaille menemukan, bahwa ternyata penjelasan dari Alquran yang turun 14 abad yang lalu itu dalam menggambarkan asal muasal manusia, lebih tepat dari ilmu embriologi mutakhir. Hal itu secara jelas diditulis dalam bukunya yang berjudul ‘The Origin of Man’.

Berkaitan dengan pertumbuhan manusia, QS Lukman ayat 14 juga menyuruh seorang ibu untuk menyusui anaknya sampai umur 2 tahun. Sedangkan para dokter pada tahun 1960-an, menyuruh anak disapih bila sampai umur 1 tahun. Kita jangan cepat menganggap bahwa perintah menyusui pada 2 tahun itu tidak ilmiah.

Karena, mulai tahun 70-an, berdasarkan hasil penelitian yang sangat luas dari WHO pada ibu di negara-negara berkembang, dianjurkan menyusui anaknya dengan air susu ibu sampai sekurang-kurang selama 2 tahun. Hal ini terutama bagi mereka dengan keadaan sosial ekonomi yang parah. Sebab, susu ibu adalah satu-satunya sumber protein yang sangat berguna untuk pertumbuhan anak, khususnya perkembangan otaknya.

Dalam perkembangan ilmu kedokteran dari zaman Hipocrates sampai sekarang, tampak kemajuan yang teratur dan bertingkat. Namun, dalam pembalseman atau me-mummi jenazah, tenyata orang Mesir purba jauh lebih maju dari ilmu kedokteran mutakhir di Amerika maupun Rusia. Mereka saat ini juga sangat menginginkan kemampuan untuk mengawetkan jenazah selama mungkin. Sampai sekarang, ilmu mummi Mesir purba belum dapat ditiru, apalagi diungguli oleh ilmu kedokteran modern.

Pengecualian tingginya ilmu kedokteran untuk mengawetkan mayat itu adalah wilayah kekuasaan dan ketentuan Tuhan. Hal itu untuk membuktikan janji Allah kepada Fir’aun, yang mengangkat dan menobatkan dirinya sendiri jadi Tuhan dan sangat terlambat bertaubat.

Maurice Bucaille adalah contoh manusia pemikir dan filosof yang mengajukan pertanyaan tentang kebenaran Kitab Suci Alquran sesudah mengkaji dan mengujinya. Kemudian, ia secara jujur mengakui akan kebenaran Alquran yang jauh lebih dahulu dari ilmu kedokteran, terutama dalam penemuan proses kejadian dan pertumbuhan manusia.

Apa yang tadi saya uraikan adalah suatu citra (ideal) dan hakikat kebenaran yang ditunjuki dan yang kita dambakan. Tujuannya adalah untuk menuntun kita kepada jalan yang diridhai Allah SWT. Selanjutnya, marilah sejenak kita fokuskan pikiran kita kepada fakta (realitas) lain dalam sejarah umat Islam masa kini, supaya kita mendapatkan pandangan secara utuh.

Dalam ‘Risalah Tauhid’, Syekh Muhammad Abduh mengungkapkan bahwa timbulnya bencana atas umat Islam, hanya berakibat pada diri mereka sendiri dan tidak membawa pengaruh apapun pada Alqur’an. Sebab, Allah SWT telah menjamin untuk memelihara Alquran sehingga tetap menjadi hujjah pada umat manusia. Ungkapan Abduh itu, sebetulnya ditujukan untuk menganalisis masa silam umat Islam sesudah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan karena fanatisme politik. Ternyata, analisis Abduh itu masih relevan pula untuk umat Islam masa sekarang.

Akhirnya, peringatan Nuzulul Quran kali ini janganlah cuma membekas pada seremonialnya. Kita berdoa agar ketika damai hati ini mendengar senandung ayat suci Alquran juga diikuti kedamaian, ketentraman, dan rahmat karunia Tuhan akan segera datang di negeri ini. Selain itu, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang religius, harus berpartisipasi mewujudkan perdamaian dunia dengan salah satu jalannya terus mengaji dan mengkaji Alquran yang mulia.

Ikhtisar
- Alquran menjadi mukjizat yang bisa diuji sampai akhir zaman.
- Kebenaran yang terkandung dalam Alquran telah mengalami berbagai proses pembuktian.
- Allah SWT telah menjamin kebenaran Alquran agar tetap bisa menjadi hujjah (petunjuk) bagi setiap manusia.
- Peringatan Nuzulul Quran tidak semestinya hanya membekas pada sisi seremoninya.

( )

Tarmizi Taher adalah Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia

Add comment Oktober 10, 2006

Akhlak dan Kedermawanan

 Oleh : H. Saifullah Yusuf
Republika 10/10/06 Sedahsyat apa pun badai persoalan, seberat apa pun himpitan beban, seorang mukmin senantiasa percaya akan pertolongan Allah. Bahwa, Allah memberikan pertolongan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Masalahnya, apakah kita ini pantas ditolong? Bahkan, pantaskah kita mengharapkan pertolongan-Nya? Maling tak pantas mengharap pertolongan polisi. Ia harus insaf dan bertobat dulu. Demikian pula adab kita di hadapan Allah. Kita boleh mengharap pertologan Allah kalau kita pantas. Kapan? Setelah kita insaf, bertobat, dan membaguskan agama-Nya.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asaakir, dari Jabir bin Abdillah RA, dari Rasulullah SAW, Allah berfirman, ”Inna hadza diinun irtadloituhu linafsi, lan yushlihahu illaa as-sakhoo-u wa husnul khuluq, fa akrimuuhu bihima maa shohibtumuuhumaa, inilah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku. Tidak ada yang mampu membuatnya bagus, kecuali kedermawanan dan akhlak yang bagus. Karena itu, muliakanlah agama ini dengan yang dua itu selama kamu melestarikannya.”

Mengapa kedermawanan? Sebab harta adalah titipan Allah. Titipan itu bisa benar-benar menjadi anugerah kalau manfaatnya mampu menetes kepada lingkungan. Bagi seorang mukmin, segala isi dunia ini, termasuk harta, harus berfungsi ibadah.

Ibadah berarti infak. ”Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun, dan sebagian dari yang Kami anugerahkan, mereka infakkan: derma.” Sungguh merugi, hartawan yang tidak demawan. Rugi diri sendiri, rugi pula masyarakatnya.

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW bersabda, bahwa di antara empat hal yang menentukan tegaknya dunia (masyarakat) adalah dermawannya kaum berpunya, di samping ilmunya para ulama, hadirnya pemimpin yang adil, dan doanya orang miskin.

Lebih lanjut, tujuan kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sedangkan akhlak itu sendiri ‘melayani’ dua matra: hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minan naas (hubungan dengan sesama manusia). Tidak dapat disebut berakhlak mulia kalau kedua matra itu tak terlayani dengan sebaik-baiknya. Bukan akhlak mulia bila keshalihan ritual tanpa dibarengi keshalihan sosial atau sebaliknya. Sama halnya dengan khusyuk (merendahkan diri di hadapan Allah), tak dapat dipisah dari tawadhu (berendah hati di hadapan makhluk).

Marilah kita jadikan diri kita pantas memperoleh pertolongan Allah dengan membaguskan agama-Nya. Marilah membaguskan agama Allah dengan kedermawanan dan akhlak mulia. Momentum Ramadhan adalah saat yang pas bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik. Menjadi hamba yang khusyuk sekaligus tawadhu. Wallahul Muwaffiq.

Add comment Oktober 10, 2006


Calendar

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category