Archive for Oktober 15th, 2006

Kasih sayang mempererat ukhuwah

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

aagym.jpgSolopos 13/10/06 Saudaraku, dari 114 belas surat dalam Alquran, hanya satu surat saja yang tidak diawali kalimat basmalah, yaitu Alquran Surat at-Taubah (9). Selain Surat at-Taubah, semuanya diawali lafal basmalah.

Apa hikmahnya? Semua yang kita lakukan harus berlandaskan basmalah. Artinya, kita selalu menggantungkan amal perbuatan kita kepada Allah, dan menghiasi amal-amal tersebut dengan kasih sayang. Karena itu, berbicara tentang Islam sama artinya dengan berbicara tentang kasih sayang. Islam adalah agama kasih sayang; agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Rasulullah SAW adalah contoh ideal pribadi penuh kasih sayang. Beliau menjadikan basmalah sebagai tempat bertolak. Kalau kita telaah kehidupan Rasul, maka kasih sayang menjadi bagian terpenting pribadinya. Dakwah yang beliau dilakukan adalah dakwah penuh kasih sayang. Dalam Alquran difirmankan, ‘’Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin.” (QS at-Taubah [9]: 128).

Rasulullah SAW memang mengabarkan keindahan Islam kepada manusia dengan landasan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya beliau mampu melembutkan hati yang membatu dan mengubah kebencian menjadi persaudaraan. Mengenai hal ini Allah Swt berfirman, ‘’Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran (3): 159).

Mahasuci Allah, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercabut, maka bisa jadi itulah yang menjadi biang dari segala bencana.

Karena itu, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup dengan limpahan kasih sayang. Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.

Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.
Saudaraku, kasih sayang juga merupakan salah satu pilar yang akan memperkokoh ukhuwah islamiyah. Adakah rasa persaudaraan dapat kita rasakan dari orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang? Tentu saja tidak! Kemuliaan akhlak yang tercermin dalam jiwa yang penuh kasih sayang tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam kalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih tafarruq (perpecahan) yang mengejawantah dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama Muslim.

Oleh karena itu, agar ruh ukhuwah tetap kokoh kita harus mengevaluasi tentang sejauh mana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki kalbu yang bening bersih dan selamat. Karena, kalbu yang kotor dipenuhi sifat iri, dengki, hasut, buruk sangka, dan jauh dari rasa belas kasih hampir dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang justru dapat merusak ukhuwah.

Lalu, bagaimana agar rasa kasih sayang dapat melekat pada diri kita? Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapkan rumus ”PERHATIAN”. Ya, kita harus lebih PERHATIAN. Maksudnya, kita harus lebih (P)emaaf, (E)mpati, (R)amah, (H)ormat, (A)krab, (T)eduh, (A)man dan (N)yaman.

Pemaaf adalah ciri orang yang memiliki kasih sayang melimpah. Kunci menjadi pribadi pemaaf adalah tidak mudah tersinggung dengan perlakuan orang. Pribadi pemaaf akan memaafkan kesalahan saudaranya sebelum saudaranya itu meminta maaf. Saudaraku, tidakkah kita ingin menjadi pribadi yang dimaafkan Allah? Maka jadilah pribadi pemaaf.

Rumus selanjutnya adalah empati. Orang akan lebih penyayang jika bisa meraba penderitaan orang lain. Apa yang dialami orang lain seakan dialami dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh, ia akan merasa sakit tatkala saudaranya sakit. Begitu pula saat saudaranya bergembira, ia juga akan ikut merasa gembira.

Selanjutnya adalah ramah. Dengan ramah yang disertai muka cerah, orang akan merasa terpuaskan. Saat memberi misalnya. Walau yang kita berikan tidak seberapa, namun dengan keramahan kita, orang yang diberi akan merasa lebih terpuaskan.

Orang pun akan merasa dihargai apabila kita menghormatinya. Sudah menjadi standar bila semua orang untuk senang dihormati dan tidak senang direndahkan, siapa pun dia. Dengan sikap hormat, orang lain akan merasa dihargai dan diakui keberadaannya. Sebenarnya, menghormati orang lain sama artinya dengan menghormati diri sendiri.

Rumus selanjutnya adalah akrab. Keakraban menunjukkan dekatnya ikatan persaudaraan. Persaudaraan tumbuh dari adanya kasih sayang. Buah dari keakraban akan melahirkan keteduhan. Inilah rumus berikutnya. Seorang Muslim harus seperti pohon rindang, di mana para musafir bisa melepas lelah dan orang kepanasan bisa mendapatkan kesejukan.

Pribadi penuh kasih sayang juga akan mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Aman artinya orang lain tidak merasa terganggu bila dekat dengan kita. Dan terakhir adalah timbulnya rasa nyaman. Dalam suasana nyaman, orang tidak hanya merasakan aman, tapi juga merasa senang dan mendapat manfaat.

Dengan demikian, umat Islam harus memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan semangat untuk membangun ukhuwah islamiyah yang kokoh, salah satunya dengan menjaga nilai-nilai kasih sayang seraya menepis remah-remah jahiliyah dari hati ini. Sejalan dengan hal itu, memiliki kalbu yang bersih dan selamat juga harus menjadi ikhtiar kita agar kita mampu mengevaluasi diri dengan sebaik-baiknya dan menatap jauh ke depan agar Islam benar-benar dapat termanifestasikan menjadi rahmatan lil ‘aalamiin dan umat pemeluknya benar-benar menjadi “sebaik-baik umat” yang diturunkan di tengah-tengah manusia. Wallahua’lam.

- KH Abdullah Gymnastiar Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid

Add comment Oktober 15, 2006

Alquran dan agenda transformasi sosial

Oleh Jamal Ma’mur Asmani

arabic_writing1.jpgSolopos 13/10/06 Tanggal 17 Ramadan adalah hari yang penuh dengan sakralitas-transendental. Hari dimana mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW diturunkan pertama kalinya. Tidak lain adalah Alquran al-Karim sebagai titik tolak perubahan, baik dalam tataran individu Nabi maupun sosial.
Hari ini kemudian terkenal dengan nama Nuzulul Quran (turunnya Alquran). Sejak turunnya wahyu tersebut, Muhammad secara pribadi resmi diangkat menjadi seorang Rasul, utusan Allah dalam menegakkan keadilan, kesetaraan, kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan umat manusia dunia-akhirat.

Peristiwa ini menjadi penambah inspirasi dan motivasi Nabi dalam melakukan agenda transformasi sosial yang sudah direnungkan sejak beberapa bulan terakhir. Nuzulul Quran ini turun ketika Nabi Muhammad sedang melakukan proses takhannus dan kholwat (menyendiri dan berdzikir) di gua Hira’ selama berbulan-bulan. Hal ini selain untuk menyucikan jiwa dari segala kekelaman dan kemaksiatan, juga karena kegundahan Nabi melihat realitas negatif di Mekah yang hampir mencapai titik klimaks, berupa penyiksaan, penganiayaan, penjajahan, dan eksploitasi sumber daya alam dan manusia untuk kepentingan elite.

Nabi sadar dan paham itu, karena Nabi sendiri adalah seorang pedagang aktif yang levelnya sudah mancanegara. Nabi sudah terbiasa membawa barang dagangannya menuju Syam (Siria) dan daerah-daerah lain. Aktivitas ekonomi inilah yang membawa Nabi ke arah pemahaman mendalam mengenai struktur masyarakat Arab yang hegemonik, eksploitatif, dan distortif. Nabi sendiri berasal dari suku Quraiys yang notabene adalah suku elite di Makkah, namun Nabi tidak memanfaatkan prevelege ini untuk menumpuk kekayaan pribadi dengan memeras kaum lemah tertindas. Justru sebaliknya, Nabi ingin mengangkat harkat mereka ke arah yang lebih baik. Namun, karena struktur Arab yang demikian kuat dan sulit ditembus, Nabi merasa tidak mampu melakukan agenda transformasi. Dengan kholwat dan takhonnus di Gua Hiro , Nabi memantapkan langkah dengan sepenuh hati, mencari sumber kekuatan yang mampu memberi inspirasi dan motivasi dalam menghadapi medan perjuangan yang dahsyat ini.

Pesan transformatif wahyu Ada 5 ayat yang pertama kali diturunkan Jibril kepada Nabi, yaitu surat al-Alaq 1-5:30 “Iqra’ Bismi Rabbika al-Ladzi Khalaq, Khalaqa al-Insana Min Alaq, Iqra’ Warabbuka al-Akram, Alladzi Allama bi al-Qalam, Allama al-Insana Maa lamya’lam”, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Lima ayat ini sangat memuat kandungan yang sangat transformatif. 

Pertama, membaca. Ia bisa dikatakan sebagai sebuah proses yang mewakili seluruh aktivitas belajar dan pendidikan. Dengan membaca orang akan menemukan pengetahuan, wacana, dan informasi yang kaya yang bisa digunakan untuk merefleksikan diri dan masyarakatnya secara utuh, aktif dan progresif. Orang akan mampu membaca dan mengambil manfaat darinya untuk mengembangkan cakrawala pemikirannya apabila menguasai bahasa tulisan bacaannya. Di sinilah aspek penguasaan bahasa sangat menentukan efektivitas aktivitas ini. Tanpa penguasaan bahasa, lautan ilmu dan informasi tidak akan bisa dimanfaatkan dengan baik. Dus, ia adalahthe best key atau starting point bagi sebuah kesuksesan.

Kedua, menulis. Dalam ayat tersebut Allah dengan jelas mencantumkan kata bil- qalam, dengan pena. Sebagaimana kita pahami, bagaimana besarnya manfaat sebuah tulisan bagi upaya transformasi individu dan sosial. Dengan adanya tulisan lah, warisan peradaban manusia yang paling tinggi berupa ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, dapat diwarisi oleh generasi sesudahnya, dikembangkan dan disebarkan di seluruh penjuru dunia. Alquran sendiri adalah contoh konkretnya. Ia adalah dokumentasi yang sarat akan ilmu yang bisa dibaca oleh siapapun. Tidak hanya kalangan muslim, nonmusim pun banyak yang mengkajinya secara serius. Banyak orang yang meraih gelar prestisius gara-gara mengkaji Alquran dengan pisau analisis ilmiah. Bahkan ada seorang Profesor Jerman yang meneliti ayat min alaq, bahwa manusia diciptakan dari tempat cantolan rahim perempuan. Setelah dia meneliti, akhirnya dia menemukan kebenaran informasi Alquran yang membuatnya masuk Islam. Semua manfaat ini
adalah karena Alquran dapat terdokumentasi dengan baik.

Ketiga, tantangan ilmu. Dengan berani dan tegas, Allah dalam Alquran menantang para ilmuwan tingkat dunia kapan pun dan dimana pun adanya untuk membuat kembaran Alquran satu surat pun. Tentu adalah sebuah tantangan yang sangat luar biasa. Ini untuk menanggapi statemen-statemen minor yang diarahkan sekelompok intelektual Makkah pada Alquran, bahwa ia adalah buatan Muhammad, bukan Kalamullah yang abadi. Namun, fakta dan realita membuktikan. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada seorang ilmuwan tingkat dunia dari daerah atau wilayah manapun yang mampu merespons tantangan Allah yang sarat ilmiah ini. Sekali lagi, ini adalah bukti, bahwa Alquran adalah mukjizat yang sarat ilmu pengetahuan yang tidak habis dikaji kapan pun, di mana pun, dan oleh siapa pun.

Sudah waktunya umat Islam mengambil spirit Nuzulul Qur’an ini untuk melakukan perubahan besar-besaran guna kemajuan bangsa dan negara. Ada beberapa agenda.
Dalam bidang pendidikan, mental dan tradisi membaca, menulis, meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan harus digalakkan secara maksimal. Karena kalau umat Islam kalah berkompetisi dalam bidang ini, niscaya ia akan termarginalkan dalam proses perubahan bangsa dan dunia ini. Secara faktual, budaya baca dikalangan umat ini masih sangat rendah. Salah satu strategi mensukseskan tradisi baca ini adalah menguasai bahasa, khususnyaAarab dan Inggris. Karena tanpa penguasaan kedua bahasa itu, umat Islam akan mengalami keterasingan informasi dan partisipasi. Penting juga dibangun perpustakaan-perpustakaan yang berisi lautan informasi dan pengetahuan lintas agama, Negara, dan disiplin ilmu. Pengayaan ilmu ini diharapkan mampu memperbaiki standar moral dan mental yang saat ini sedang berada di titik nadir oleh gelombang demoralisasi.

Dalam bidang ekonomi, perlu diusahakan upaya kolektif dalam mendinamisasi potensi ekonomi umat demi pemberdayaan ekonomi mereka. Tidak dapat dipungkiri, aspek ini menempati rangking utama persoalan bangsa ini. Karena kemiskinan, mereka tidak mendapatkan pendidikan yang memadai, sehari-hari selalu dicengkram kelaparan dan serba kekurangan. Maka seluruh lapisan masyarakat, harus bahu membahu melakukan agenda pemberdayaan ini. Pemerintah, pengusaha, ormas, LSM, organisasi pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat harus bekerja sama dalam menyukseskan agenda vital ini. 

Dalam bidang politik, diperlukan aturan main yang menjamin adanya keterbukaan, kesetaraan, akuntabilitas publik dan keadilan dalam semua aspek kehidupan, sehingga harapan terwujudnya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur (Negara yang indah yang penuh ampunan Tuhan) akan menjadi sebuah kenyataan.

Jamal Ma’mur Asmani, peneliti Cepdes, center for pesantren and democracy studies, Jakarta, Direktur Lembaga Kajian Al-Hikmah Pati Jateng.

Add comment Oktober 15, 2006

Jangan Sampai Amal Kita Hangus!

626116142_tb.jpgRepublika 13/10/06 Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS Asy Syu’araa [26]: 87)

Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.

Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.

Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.

Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya.

Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.

Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.

Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’araa [26]: 87).

Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.

Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.

Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan–wajib maupun sunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.

Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini. Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.

Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR Muslim).

Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw. menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa’un [107]: 4-6).

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.

( )

Add comment Oktober 15, 2006

Kisah Fir’aun

mummi.jpgRepublika 13/10/06 (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al Anfaal [ 8]: 54). !

Peradaban Mesir kuno, bersama negara-negara kota lainnya di Mesopotamia dalam masa yang sama, dikenal sebagai salah satu peradaban tertua di dunia. Negara-negara itu terorganisasi dengan tatanan sosial paling maju di zamannya.

Fakta sejarah membuktikan mereka telah menemukan dan menggunakan tulisan sekitar abad ke-3 SM. Mereka juga memanfaatkan Sungai Nil dan terlindung dari berbagai bahaya dari luar berkaitan dengan kondisi alamiah negeri tersebut.

Namun, pada masyarakat yang beradab ini pula berlaku pemerintahan Fir’aun, suatu sistem kekafiran yang paling jelas dan lugas disebutkan dalam Alquran. Mereka penuh kesombongan, mengesampingkan kebenaran, dan menghina Tuhan. Dan pada akhirnya, peradaban mereka yang maju, tatanan sosial politik, bahkan militer mereka yang kuat tidak bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Peradaban bangsa Mesir bersumber dari kesuburan Sungai Nil. Bangsa Mesir menghuni Lembah Nil karena melimpahnya air di sungai ini, hingga mereka dapat mengolah tanah dengan persediaan air dari sungai tanpa tergantung kepada musim hujan. Ahli sejarah Ernest H Gombrich menyatakan dalam tulisannya bahwa Afrika sangat panas dan terkadang tidak ada hujan selama berbulan-bulan. Karena itulah, banyak wilayah di benua besar ini luar biasa keringnya. Bagian-bagian itu dihampari oleh lautan pasir yang sangat luas. Kedua sisi Sungai Nil juga ditutupi pasir dan di Mesir pun jarang turun hujan. Namun di negeri ini, hujan tidak terlalu dibutuhkan karena Sungai Nil mengalir tepat di tengah seluruh negeri.

Jadi barang siapa dapat menguasai Sungai Nil yang begitu pentingnya, dia pun dapat menguasai sumber terbesar perdagangan dan pertanian Mesir. Para Firaun bisa melanggengkan dominasinya atas Mesir dengan jalan ini.

Lembah Nil yang sempit dan memanjang tidak memungkinkan unit-unit kependudukan yang bertempat di sekitar sungai berkembang banyak. Karena itulah bangsa Mesir membentuk peradaban yang terbangun dari kota-kota kecil dan perkampungan, bukan dari kota-kota besar. Faktor ini juga memperkuat dominasi para Firaun atas masyarakatnya.

Raja Menes dikenal sebagai Fira’un Mesir pertama yang menyatukan seluruh Mesir Kuno untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam sebuah negara kesatuan, kurang lebih pada abad ke-3 SM. Kenyataannya, istilah firaun semula merujuk kepada istana raja Mesir, namun perlahan-lahan menjadi gelar dari raja-raja Mesir. Begitulah sebabnya raja yang memerintah Mesir kuno mulai disebut fir’aun

Sebagai pemilik, pengatur dan penguasa dari keseluruhan negara dan wilayah-wilayahnya, para fir’aun ini dianggap sebagai pengejawan-tahan dari dewa terbesar dalam kepercayaan Mesir Kuno yang politeistik dan menyimpang. Administrasi tanah rakyat Mesir, pembagian, penda-patan mereka, singkatnya, seluruh pertanian, jasa, dan produksi dalam batas-batas wilayah negara dikelola atas nama fir’aun.

Absolutisme dalam rezim tersebut melengkapi pemerintahan fir’aun dengan kekuasaan yang memungkinkannya melakukan apa pun yang ia inginkan. Pada saat penegakan dinasti pertama, kala Menes yang menjadi raja Mesir pertama dengan menyatukan Mesir Hulu dan Hilir, Sungai Nil disalurkan kepada penduduk melalui saluran-saluran air.

Di samping itu, seluruh produksi berada di bawah kontrol dan seluruh barang dan jasa diberikan untuk sang raja. Rajalah yang mendistribusikan dan membagi barang dan jasa dalam proporsi yang dibutuhkan rakyat. Hal ini tidaklah sulit bagi raja, yang telah menggalang kekuasaan sedemikian besar di negeri itu, untuk menekan rakyat dalam ketun-dukan. Raja Mesir, atau kelak disebut fir’aun, dipandang sebagai makhluk suci yang memegang kekuasaan besar dan mencukupi semua kebutuhan rakyatnya: dan ia dipandang sebagai tuhan. Akhirnya, para fir’aun percaya bahwa mereka memang tuhan.

Perkataan Fir’aun yang disebutkan dalam Al Quran dan diucapkan-nya dalam percakapan dengan Musa membuktikan bahwa mereka memegang kepercayaan ini. Ia mencoba mengancam Musa dengan mengata-kan: Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan. (QS Asy-Syu’araa’ [26]: 29), dan ia berkata kepada orang-orang di sekelilingnya: Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. (QS Al Qashash [28]: 38). Ia mengatakan ini semua karena menganggap dirinya adalah tuhan.

(www.harunyahya.com )

4 comments Oktober 15, 2006

Mengoptimalkan Iktikaf

Oleh KH. Athian Ali M Da’i MA

255264356_tb.jpgRepublika 14/10/06 Secara syara’, iktikaf mengandung pengertian, ”tinggal untuk waktu tertentu di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.” Dasar hukumnya, di samping firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 125 dan 187, juga hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, sejak beliau tiba di Madinah sampai dengan wafatnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Iktikaf dapat dilaksanakan selama bulan Ramadhan dan juga di luar Ramadhan. Saat yang terbaik adalah 10 hari terakhir dalam bulan Ramadhan. Jumhur (mayoritas) ulama sepakat, iktikaf sunah hukumnya, kecuali iktikaf nazar. Mazhab Hanafi membaginya kepada yang wajib yakni, iktikaf nazar sunnah mu’akkadah pada 10 hari terakhir Ramadhan dan yang sunnah mustahab pada waktu-waktu selain 10 hari terakhir Ramadhan.

Iktikaf dimaksudkan untuk menyucikan ruh dan mengembalikannya kepada fitrah iman (QS Al A’raaf [7]: 172) dan fitrah Islam (QS Ar Rum [30]: 30) dengan berupaya mematikan kecenderungannya fujur (kefasikan) dan menghidupkan kecenderungan takwa (QS Asy syams [91]: 7-8). Membebaskan diri sementara dari kesibukan dunia agar terbebas dari penyakit al wahn, yakni hubbu al dunia wa qorohiyah al maut (cinta kepada dunia dan takut akan kematian).

Berupaya mengusir nafsu setani dari dalam diri lewat upaya taqarrub(mendekatkan) diri kepada Allah SWT dengan tidak puas hanya melaksanakan yang diwajibkan, tapi berusaha memperkaya diri dengan ibadah-ibadah yang disunahkan. Merasa belum cukup dengan tidak melakukan yang diharamkan, tapi juga berupaya menjauhi yang dimakruhkan.

Melakukan latihan ruhaniyah (tahziib an nafs) seperti yang dimaksudkan Imam Al Ghazali dengan thariqaat. Beliau mendefinisikannya sebagai, ”Berusaha dengan sungguh-sungguh hidup di jalan Allah, dengan menghapus segala sifat yang tercela, serta memutuskan hubungan dengan segala bentuk kehidupan yang tidak diridhai Allah SWT.” Sasaran utamanya adalah menggapai posisi sebagai `ibad ar rahmaan (hamba yang baik dari Allah Yang Maha Pengasih) dengan sekian kriterianya yang terdapat dalam surah Al Furqaan (25) ayat 63-77.

Di antaranya menjauhkan diri dari sifat takabur, memanfaatkan sebagian malam dengan shalat tahajud. Menghindarkan diri dari perbuatan ahli neraka. Membaca dan menghayati Alquran serta berupaya mengamalkannya. Memperbanyak zikrullah dan istighfar. Bertafakur tentang Allah SWT dengan segala sifat ‘Maha’-Nya.

Di samping itu, memanfaatkan saat-saat kedekatan diri dengan Al Khalik saat beriktikaf, untuk bermuhasabah dengan mempertanyakan kepada diri. Misalnya, andai kata kehidupan di alam dunia ini berahir esok hari sudah siapkah mempertanggungjawabkan amanah kehidupan ini di hadapan Allah SWT? Sudah cukupkah bekal iman dan amal saleh untuk dapat meraih rahmat dan maghfirah-Nya? Allahu Akbar! Wallahu a’lam bish-shawab

1 comment Oktober 15, 2006

Sikap Penguasa Terhadap AlQur’an

Oleh: MR Kurnia

quran11.jpg Allah Swt. sayang kepada manusia. Salah satu buktinya, Dia yang
Mahaperkasa menurunkan al-Quran. Dengan itulah manusia dapat
menentukan mana perkara yang benar dan mana perkara yang salah. Baik
buruk pun dengan jelas dapat dibedakan. Betapa tidak, al-Quran
benar-benar merupakan furqân (pembeda). Kitabullah ini diturunkan
untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya
Islam, al-Quran adalah cahaya menuju ridha Allah Swt. Ibarat air yang
cocok bagi kehidupan, begitu pula al-Quran bagi hidup dan kehidupan
manusia. Melepaskan al-Quran berarti menjerumuskan diri ke dalam
jurang kenestapaan.

Penguasa Kini

Sayang, jika dilihat dari realitas kekinian, para penguasa Muslim
tampak mengerdilkan al-Quran. Sebagai contoh, ketika rame-rame isu
Perda bernuansa syariah muncullah tanggapan peguasa bahwa negara ini
bukanlah negara agama. Ada juga yang menggunakan cara apologetis
dengan menyatakan ‘tidak ada Perda syariah, itu ‘kan perda
antimaksiat’ . Padahal, di antara isinya berupa keharusan umat Islam
bisa membaca al-Quran sebelum menikah dan sekolah SMP. Mereka
seakan-akan takut untuk menyuarakan secara tegas mengenai keharusan
untuk menegakkan syariah Islam yang sumber utamanya adalah al-Quran.

Memang, penguasa tidak secara terbuka mengerdilkan al-Quran. Namun,
realitas menunjukkan bahwa kebanyakan para penguasa hanya mengagungkan
al-Quran sebatas simbolik. Miliaran rupiah dikeluarkan untuk
menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Tentu saja ada
manfaatnya, yaitu simbolisasi kecintaan pada al-Quran atau setidaknya
sebagai sarana mengingat al-Quran. Namun, setelah selesai, Pemerintah
tetap meninggalkan hukum Islam yang terdapat dalam al-Quran. Al-Quran
dibaca, tetapi tidak diterapkan; didengarkan, tetapi tidak
dilaksanakan. Kalau demikian realitasnya, bukankah ini merupakan
sebuah sikap mengkerdilkan al-Quran? Betapa tidak, al-Quran tidak
diposisikan sesuai kedudukannya, yakni pedoman hidup dan sumber hukum.
Sekalipun membaca al-Quran adalah ibadah, mendudukkan al-Quran hanya
sebatas bacaan merupakan pengebirian. Coba bayangkan, banyak UU
dibuat, tetapi tidak diterapkan, hanya dibaca. Tidak salah kalau kita
mengatakan itu tindakan main-main. Padahal, al-Quran adalah
undang-undang dari Allah Pencipta manusia.

Setiap tanggal 17 Ramadhan Nuzulul Quran diperingati. Ini adalah sikap
mulia sebagai rasa syukur atas turunnya kitab petunjuk dari Allah.
Namun, sekali lagi sayang, peringatan sebatas pada acara seremonial.
Isi al-Quran tetap tidak diimplementasikan.

Bukan sekadar itu, sikap para penguasa Muslim saat ini jelas: menolak
penerapan al-Quran. Buktinya? Sistem yang diterapkan dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara adalah sekularisme. Dengan sekularisme
berarti agama (baca: Islam) dipisahkan dari kehidupan. Al-Quran tidak
boleh dijadikan sebagai sumber hukum dalam mengatur masyarakat dan
negara. Alih-alih mengambil hukum dari al-Quran, justru penguasa
mengambilnya dari J.J Rousou, John Lock, Voltaire, Adam Smith,
Machiavelli, dll. Ekonomi yang diterapkan adalah ekonomi kapitalistik
dengan riba sebagai tulang punggungnya. Padahal, al-Quran
mengharam-kan riba. Bahkan, Rasulullah saw. pernah menyatakan bahwa
dosa riba yang paling ringan adalah laksana seseorang ‘berhubungan’
dengan ibunya sendiri. Na’ûdzu billâh. Politik yang diterapkan
merupakan politik yang sekularistik. Budaya yang dikembangkan adalah
budaya hedonistik dan liberalistik. Al-Quran memerintahkan orang
Mukmin untuk dijadikan sebagai wali (kawan/pelindung) . Namun, realitas
menunjukkan AS sang imperialislah yang justru dijadikan sebagai
pemimpin, pelindung, dan penolong.

Tidak berhenti sampai di situ. Penguasa yang-menurut Rasul-harusnya
menjadi benteng bagi umat, malah bertindak sebaliknya. Penghinaan
terhadap al-Quran yang secara sistematis dilakukan atas nama
liberalisme dibiarkan, bahkan dilembagakan dalam perguruan-perguruan
tinggi tertentu. Barangkali ada benarnya Hartono A. Jaiz menulis buku
ada pemurtadan di IAIN. Al-Quran dan lafal Allah diinjak-injak
dibiarkan. Media massa yang mempropagandakan anti Islam dibiarkan.
Kalau pun ditindak, lebih disebabkan karena adanya pengaduan, bukan
bertindak sebagai benteng seperti seharusnya. Bahkan, ketika Salman
Rushdie menulis al-Quran sebagai ayat-ayat setan (the Satanic Verses)
para penguasa diam. Rasulullah saw. dihujat dengan dibuat kartun pada
berbagai media massa dan didukung oleh negara Barat, mereka juga hanya
diam seribu bahasa. Yang keluar pun paling keras hanya berupa
kecaman. Akibatnya, al-Quran makin jauh dari umat. Jika ini yang
terjadi, wajar jika kehidupan yang serba sempit (ma’îsat[an] dhanka)
menimpa umat ini.

Penguasa Islam Dulu

Ajaran Islam telah lengkap dan memenuhi syarat hidup. Namun, tetap
saja diperlukan orang-orang yang menjaga, memelihara, dan menjaga
al-Quran agar berarti dan memberi arti. Sebab, manusia jualah yang
memberi arti terhadap kandungannya. Kitab suci al-Quran yang tidak
dibaca dan dihidupkan dengan jiwa manusia hanya akan tinggal
huruf-huruf mati belaka. Di sinilah peran penguasa untuk menjadikan
al-Quran sebagai ruh dalam kehidupan.

Umat Islam pernah mencicipi kebahagiaan, kemegahan, dan keamanan yang
sebenarnya. Umat Islam merasakan kenyamanan ketika berada di bawah
kekuasaan yang dipimpin oleh para penguasa Muslim yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, menjaga Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya,
mengetahui batas-batasnya, serta menjalankan hukum-hukumnya. Para
pemimpin umat dulu bisa hadir ke masjid bersama rakyat, membukakan
pintu bagi mereka, menghormati pengunjung, memuliakan orang alim dan
faqih, serta mendengarkan nasihat dan kritik mereka. Jihad senantiasa
menjadi tujuan mereka, yang tidak sedetik pun mereka abaikan. Dengan
akidah dan jihad mereka melindungi al-Quran pedoman umat. Mereka
mencamkan perkataan Abu Bakar Shiddiq, “Suatu kaum tidak akan
meninggalkan jihad kecuali mereka lemah tak berdaya.” Karenanya, upaya
futûhât untuk menyampaikan risalah Islam yang dikandung dalam al-Quran
dan as-Sunnah terjadi dengan amat menakjubkan.

Berbeda dengan dewasa ini, para penguasa dulu menjadikan al-Quran (dan
as-Sunnah) sebagai satu-satunya sumber hukum negara. Sejarah mencatat
dengan baik bahwa para penguasa sejak Khulafaur Rasyidin, Kekhilafahan
Umayah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah menjadikan al-Quran dan as-Sunnah
sebagai pegangan. Sebagai manusia, mereka memiliki kesalahan. Namun,
secara umum mereka tetap menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai
sumber aturan. Hingga Kekhilafahan Islam terakhir yang diruntuhkan 3
Maret 1924, al-Quran tetap dijadikan sebagai sumber aturan. Sejak
Khilafah runtuh, barulah diterapkan sekularisme di negeri-negeri Islam.

Salah satu bukti kecintaan penguasa kala itu pada al-Quran adalah
mereka berupaya untuk mengumpulkan al-Quran. Kitab suci yang
berserakan di dalam hafalan Sahabat dan tulisan di pelepah kurma,
kulit, dll dikumpulkan. Jerih payah mereka luar biasa. Sebagai sikap
keimanan dan tanggung jawab, mereka bukan sekadar mengkompilasi saja.
Mereka juga melakukan seleksi dan filterisasi mana yang benar al-Quran
dan mana yang bukan. Akhirnya, dengan pertolongan Allah Swt. mereka
pada masa Utsman bin Affan berhasil menjadikannya sebagai mushaf.
Setelah itu disebarkanlah al-Quran ke Basrah, Kufah, dan berbagai
tempat lain untuk dikaji dan diamalkan.

Abu Bakar sangat ketat menerapkan al-Quran. Pada masa kekhilafahannya
terdapat sekelompok orang yang menolak kewajiban zakat. Mereka bughât
dengan menentang sang Khalifah. Dengan penuh keyakinan, beliau segera
menghentikan para penolak ayat tentang zakat tersebut. Sekalipun
‘hanya’ satu ayat, bagi Abu Bakar hal itu merupakan tindak kekufuran.
Begitulah upaya menjaga dan menerapkan al-Quran dicatat dengan tinta
emas sejarah selama kurun Khulafau Rasyidin.

Sikap demikian dilanjutkan pada masa-masa berikutnya. Al-Quran tidak
dapat dipisahkan dengan as-Sunnah. Pada sisi lain, telah banyak
manusia yang berani membuat dan mengada-adakan hadis palsu.
Tercatatlah ketika itu para pembuat hadis palsu, antara lain
al-Muhalla bin Abi Sufrah, Abdullah bin Saba, dll. Khalifah tidak rela
melihat situasi demikian. Islam yang dasarnya al-Quran dan al-Hadits
harus dijaga. Itulah yang ada di benak Khalifah Umar bin Abdul Aziz
(682 – 720 M). Setelah shalat istikharah untuk memohon petunjuk Allah
Swt., Umar bin Abdul Aziz berupaya mengumpulkan hadis. Beliau
menugaskan Ibnu Shihab az-Zuhri untuk mengumpulkan hadis-hadis yang
bertebaran ke dalam sebuah buku. Setelah selesai, buku ini
diperbanyak dan dimanfaatkan. Sayang, buku tersebut dilenyapkan musuh
hingga tidak sampai ke generasi berikutnya.

Berbagai upaya dilakukan oleh Khalifah berikutnya untuk menjaga isi
kandungan al-Quran. Para kaum zindiq yang berupaya untuk
memutarbalikkan al-Quran tidak diberi ruang. Sungguh, pemandangan yang
bertolak belakang dengan keadaan dewasa ini.

Sebagai wujud kecintaan pada al-Quran, dibentuklah berbagai majelis
ilmu. Di Madinah terdapat Zaid bin Tsabit (meninggal 674 M). Beliau
mengepalai bagian pengadilan, fatwa, pembacaan al-Quran dan ilmu
warisan. Makkah dikunjungi para penuntut ilmu.

Para khalifah menyediakan fasilitas pendidikan untuk mengembangkan
ilmu-ilmu al-Quran. Karena itu, pada masa Abbasiyah, sebagai contoh,
muncullah para ulama terkenal di bidang qirâ’ah, ilmu baca al-Quran.
Bermunculan pula para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir ath-Thabari (839
- 923 M), yang dilahirkan di Thabristan, sebelah selatan laut Caspia.
Tafsir terkenalnya adalah Jâmi’ al-Bayân fî at-Tafsîr al-Qur’ân.
Saking berkembangnya tafsir ini, Abdul Hamid al-Asfarai mengatakan,
“Jika seseorang berangkat ke negeri Cina, lalu di sana ia menemukan
kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari, maka hal itu bukanlah
suatu soal yang besar.”

Pada masa pemerintahan Islam, pemerintah menghargai para ulama dan
karya-karya mereka. Salah satu bentuknya adalah pemerintah memberikan
penghargaan kepada para penulis buku Islam dengan imbalan emas seberat
timbangan buku karyanya. Bahkan, ulama memiliki kedudukan sangat
tinggi. Mereka disegani. Nasihat dan kritiknya dinanti.

Pemandangan seperti ini terus terlihat sepanjang sejarah Islam.
Menjelang keruntuhan Khilafah Utsmaniyah, Khalifah Abdul Hamid tetap
tegas menjaga hukum al-Quran. Ketika utusan Yahudi meminta tanah
Palestina untuk dijadikan negara Israel, Khalifah menjawab dengan
tegas. “Tanah Palestina bukan tanahku. Itu adalah tanah kaum Muslim.
Tak akan pernah aku serahkan kepada kalian,” ujarnya. Pada saat itu,
beliau sedang berpegang pada ayat 1 dari surat al-Isra. Palestina
adalah tanah yang diberkati, tanah Isra dan Mikraj, tanah kharaj milik
seluruh kaum Muslim. Dalam rangka mempertahankannya beliau rela
berkorban jiwa.

Last but not least, berdasarkan hal tersebut menjadi jelas betapa
sejelek-jeleknya penguasa Islam dulu di mata para penulis Barat,
mereka tetap menjunjung tinggi al-Quran, menjaga, memelihara dan
menerapkan hukum-hukumnya. Namun, berbeda dengan itu, mayoritas
penguasa Muslim sekarang justru lebih suka dipuja dan dipuji para
penulis dan pengamat dari negara imperialis sekalipun harus dengan
mengerdilkan al-Quran.

Semestinya, penguasa dan umatnya bersama-sama menerapkan, menjaga dan
membela al-Quran. Bukankah Rasulullah, Sahabat, dan para khalifah
terdahulu telah mempertahankan ayat demi ayat al-Quran dengan
perjuangan, pengorbanan, bahkan air mata dan jiwa raga? Sadarlah,
seperti kata Nabi, siapa yang meletakkan al-Quran sebagai pemimpin di
depannya niscaya ia akan menuntunnya ke surga. Sebaliknya, siapa saja
yang menaruh al-Quran di belakangnya niscaya ia menjerumuskannya ke
neraka. Na’ûdzu billâh min dzâlik!

1 comment Oktober 15, 2006


Calendar

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category