Archive for Oktober 26th, 2006

Terima Kasih Ya Allah!

Republika 19/10/06 Ramadhan dengan masdar Ramadhan bermakna pembakaran. Sesuatu yang dibakar biasanya hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti sampah yang dibakar untuk dibersihkan. Kalaupun yang dibakar baik, untuk lebih baik, seperti besi dibakar untuk jadi pisau, palu, pacul, dan sebagainya. Apabila proses pembakarannya dengan ilmu dan teknologi. Jadilah teknologi canggih seperti motor, mobil, pesawat, dan sebagainya.

Demikian halnya Allah meramadhankan kita untuk mencetak pribadi-pribadi yang canggih, yaitu pribadi-pribadi yang bertakwa. Pertama, Ramadhan membakar dosa-dosa kita kepada Allah (dosa vertikalistik). Tidak satupun di antara kita bersih dari dosa-dosa. Sehingga, orang-orang bertakwa pun diingatkan oleh Allah (QS An-Najm [53]: 32), ”Janganlah kalian merasa paling suci padahal Allah sangat tahu siapa yang paling bertakwa di antara kalian.”

Kedua, Ramadhan membakar dosa-dosa antarkita (dosa horizontal). Dengan keluarga kita disahurkan. Jarang terjadi dan sangat berkesan bersama keluarga menjelang fajar, menumbuhkan cinta dan keakraban, dan inilah di antara makna berkah sahur. Yang disebutkan oleh Rasulullah SAW. Dengan tetangga jarang bertemu, dengan Ramadhan ditarawihkan, dimushallakan, dimasjidkan.

Dengan fakir miskin dibersamakan dengan zakat fitrah dan zakat mal, bahkan serempak umat Islam seluruh dunia berpuasa. Allah ingin kita, kaum beriman, menjadi masyarakat dunia yang bertakwa (Al Baqarah [2]: 183).

Ketiga, dibakar dosa-dosa yang telah mendarah daging. Mungkin selama sebelas bulan ada makanan dan minuman yang tidak halal termakan, sehingga menyusup menjadi darah dan daging. Imam Ghozali menyebutnya zakatul jasad. ”Tidak akan masuk surga darah-daging yang tumbuh dari yang haram,” demikian peringatan Rasulullah SAW.

Keempat, Ramadhan membakar berbagai macam penyakit sehingga tidak satu pun pakar dari semua disiplin ilmu menemukan dampak buruk dari puasa kecuali hikmah dan hikmah (Al Baqarah [2]:184). Sungguh benar sabda Rasulullah SAW, ”Dengan berpuasa kalian akan sehat.”

Kelima, Ramadhan membakar sifat-sifat tercela, gampang marah, serakah, dengki, bakhil, dan sebagainya. Saat berpuasa orang beriman tidak melakukan apa yang dilakukan hewan seperti makan, minum, dan seks. Allah, pencipta alam semesta ini, ingin menghadirkan sifat-sifat malaikat pada diri hamba-hamba-Nya. Taat tanpa reserve dan tanpa putus berdzikir. Subhanallah! Terima kasih Ya Allah, Engkau meramadhankan kami, dan menjadikan kami hamba-Mu yang mulia.

(Muhammad Arifin Ilham )

Add comment Oktober 26, 2006

Betapalah Hina Kami Ini

Dr Muhammad Husain Haekal menulis begitu indah tentang kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, terjemahan Ali Audah, menulis, ”Muhammad adalah contoh kekuatan jiwa yang indah sekali atas kehidupan ini, suatu kekuatan yang membuat dia sudah tidak peduli memberikan segala yang ada padanya kepada orang lain. Itulah sebabnya, sampai ada orang yang mengatakan: Ketika memberi, Muhammad sudah tidak takut kekurangan ….”

Diceritakan dalam buku yang telah 31 kali cetak itu, apabila makan Muhammad tak pernah sampai kenyang. Ia tak pernah makan roti dari tepung gandum dua hari berturut-turut. Sebagian besar makannya berupa bubur, pada hari lain ia makan kurma. Ia sering menahan lapar. Bukan sekali Muhammad mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan teriakan rongga pencernaannya.

Begitu juga dengan berpakaian, Muhammad –seperti ditulis Haekal– sangat sederhana. Pakaiannya yang terdiri baju luar dan baju dalam terbuat dari katun atau sebangsa serat. Bukan dia tidak memiliki baju tenunan, namun seharian dia lebih suka mengenakan baju sederhana. Suatu kali, seseorang memberikannya baju bagus, namun saat bersamaan baju itu diminta oleh orang lain untuk dijadikan kafan. Rasulullah memberikannya dengan ikhlas. Rasulullah selalu tersenyum dan mudah memaafkan. Rasulullah lebih dahulu memberikan salam dan lebih dahulu menjulurkan tangan bersalaman. Ketika makan, Rasulullah mengajak pembantunya. Ia juga mengurus orang lemah, orang miskin, dan menderita. Rasulullah tak pernah menolak orang yang minta bantuannya.

Sebagai seorang pemimpin yang dimuliakan semua golongan di Madinah, Rasulullah tak segan-segan menambal sendiri pakaiannya yang robek, menjahit sendiri terompahnya, dan bahkan mencuci pakainnya sendiri. Beliau berbagi tugas dan tak ingin menyusahkan orang lain.

Dalam suatu majelis, Rasulullah tak mau orang-orang berdiri menyambutnya. Soal ini, Rasulullah berkata, ”Jangan kamu berdiri seperti orang asing yang mau saling diagung-agungkan.” Ketika duduk pun, Rasulullah tidak memilih tempat. Rasulullah juga senang bergurau. Ia juga sangat sayang pada hewan. Apabila ada kucing di luar rumah, Rasulullah sendiri yang bangun dari tidur untuk membuka pintu bagi kucing itu. Saat Rasulullah melihat istrinya Aisyah menarik-narik unta secara paksa, Rasulullah menegurnya, ”Hendaklah berlaku lemah lembut.”

Sebagai utusan Allah, menurut Haekal, Nabi Muhammad bersikap sangat tegas, berpegang pada prinsip, namun ia tidak ingin memperlihatkan diri sebagai orang yang berkuasa, sebagai raja, atau pemegang kekuasaan duniawi. Ia bukan orang yang lemah dan suka menyerah. Sifat kasih sayangnya itu, bersih dari pamrih dan tinggi hati. Haekal menyimpulkan: ”Ini adalah persaudaraan dalam Tuhan, antara Muhammad dan semua mereka yang berhubungan dengannya. Di sinilah dasar peradaban Islam yang berbeda dengan sebagian besar peradaban lain. Islam menekankan pada keadilan di samping persaudaraan itu, dan berpendapat bahwa tanpa keadilan, persaudaraan tidak mungkin ada.”

Haekal terampil menuturkan keindahan akhlak Rasulullah yang memang sangat indah itu. Rasulullah adalah teladan sempurna, dalam ketegasan prinsip, kelemah-lembutan, tutur kata yang indah, kasih sayang, dan keadilan serta persaudaraan.

Di bulan suci Ramadhan yang segera berakhir ini, setelah mengetahui akhlak mulia Rasulullah, sebaiknyalah kita merenung dalam-dalam: Apakah kita memberi untuk mendapatkan; mengambil keuntungan dari anak-anak yatim dan orang miskin; menjadi hamba dari harta, kekuasaan, dan hawa nafsu? Dapatkah kita berlemah-lembut, santun, dan adil pada setiap orang –bahkan kepada hewan sekalipun?

Di mana kita, ketika orang-orang miskin menadahkan tangannya meminta-minta, ketika anak-anak yatim terpaksa pindah agama karena ketidakmampuannya, ketika ibu-ibu kekeringan air susu untuk bayinya akibat kemiskinan membelitnya?

Di mana kita, ketika kekerasan dianggap sebagai jalan penyelesaian; orang-orang membentak dan berkata kasar; membunuh atas nama agama; mengambil harta yang bukan haknya?

Ya Allah, kami telah menjadi orang-orang tersesat, memilih hawa nafsu dan kesombongan. Padahal kami mengakui Muhammad sebagai utusan-Mu, yang memerintahkan kami mengikuti jalannya yang indah; besikap lemah lembut, tolong-menolong, adil, dan tak boleh menyakiti. Betapalah hina kami ini, bangga memakan kotoran sendiri.

(Asro Kamal Rokan )

1 comment Oktober 26, 2006

Bulan Tarbiyah Anak

Republika 18/10/06 Rasulullah SAW dan para shahabat mengenalkan puasa sejak dini pada anak. Diriwayatkan bahwa bila waktu Ashar tiba, para sahabat sibuk membujuk anak-anak yang mulai merengek meminta berbuka dengan membuatkan mereka permainan dari bulu. Tentu upaya mengenalkan puasa pada anak ini menimbang kemaslahatan kondisi anak, misalnya, kondisi kesehatan dan pentahapan dalam pengenalannya.

Secara syar’i anak-anak memang belum wajib berpuasa. Pengenalan sejak dini ini dimaksudkan agar tumbuh rasa cinta mereka pada ibadah puasa, sebagai sebuah ibadah istimewa yang Allah sebutkan dalam hadis Qudsi sebagai ibadah yang khusus untuk-Nya. Maka, cara pengenalannya pun seyogianya dengan penuh cinta.

Cinta pada Ramadhan adalah hal pertama yang harus ditumbuhkan. Berbagai keutamaan Ramadhan sebagai sayyidul syahri — penghulu bulan –merupakan informasi yang dapat membuat anak jatuh hati. Tentu informasi ini perlu dilengkapi dengan gambaran keindahan serta kenikmatan surga yang kekal. Secara ruhiy, insya Allah, keimanan anak akan tumbuh secara kokoh di hati, bersambung dengan beningnya fitrah mereka.

Kisah-kisah peri kehidupan Rasulullah dan para sahabat di bulan Ramadhan juga akan menambah khasanah wawasan dan kecintaan mereka pada ibadah puasa dan berbagai amalan utama lainnya. Misalnya, bahwa Rasulullah dan para sahabat makin tampak berbahagia di bulan Ramadhan. Senyum mereka kian mekar bertebaran, serta tegur sapa dan salam yang kian hangat di masyarakat. Mereka sadar betul bahwa Ramadhan adalah bulan cinta, bulan istimewa yang Allah jadikan sebagai tanda kasih-Nya bagi umat Islam.

Kedermawanan Rasulullah dan para sahabat di bulan Ramadhan juga melebihi hari-hari lainnya. Diriwayatkan bahwa pemurahnya Rasulullah bagaikan angin bertiup. Maka, tak ada salahnya kita menyepakati bersama anak-anak bagaimana program infak Ramadhan keluarga dilakukan dan ke mana hendak disalurkan. Kegiatan ini bisa menjadi salah satu peristiwa yang mengasyikkan bagi anak-anak serta mengasah kepekaan sosial mereka.

Demikianlah indahnya Ramadhan dapat kita tanamkan di hati anak, menjadi kesan mendalam yang tak tergantikan sepanjang hidupnya, insya Allah. Di akhir Ramadhan, silaturahim Idul Fitri pada para sesepuh, mendidik anak untuk menghargai para orang tua, membuat mereka menjadi pemuda yang rendah hati dan santun. Semoga Ramadhan ini Allah jadikan indah bagi kita sekeluarga, dan Ramadhan yang akan datang adalah saat yang lebih indah dari saat ini. Amin.

(Hj Yoyoh Yusroh )

1 comment Oktober 26, 2006

Hakikat Menahan Lapar

Oleh Dr A Ilyas Ismail MA

Republika 17/10/06 Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW selalu hidup sederhana, dan jauh dari sikap boros dan berlebihan, termasuk dalam soal makan dan minum. Dikatakan, Rasulullah SAW tidak pernah makan kenyang sepanjang hidupnya sampai beliau wafat (HR Muslim). Kalaulah kita harus makan, maka disarankan agar sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk udara atau bernapas (HR Thirmidzi).

Seperti Nabi, Umar bin al-Khaththab, meski tergolong kaya, beliau sangat sederhana dan asketis. Beliau sering mengingatkan kaum Muslim agar tidak menjadi budak perut (‘bd al-buthun). Begitu pula sahabat-sahabat Nabi yang lain. Mereka hidup sederhana. Di kalangan mereka, ada ungkapan yang sangat masyhur, yaitu: Nahnu qaumun la na’kulu hatta naju’ wa idza akalna la nasyba’ (Kami adalah segolongan manusia yang tidak makan hingga lapar, dan kalau makan pun tidak sampai kenyang).

Secara spiritual, lapar atau menahan lapar menjadi syarat utama bagi al-Salik, yaitu orang yang menempuh perjalanan menuju Allah. Dalam kitab Ihya’ `Ulum al-Din, Imam Ghazali menulis satu pasal khusus tentang keutamaan lapar ini. Menurut Ghazali, lapar itu mendatangkan banyak keutamaan. Di antaranya yang terpenting adalah beberapa hal ini.

Pertama, mencerahkan hati dan pikiran kita. Menurut Ghazali, orang yang lapar (bukan kelaparan) tidak hanya sehat secara fisik, tetapi terlebih lagi sehat secara ruhani. Baginya, hati manusia itu ibarat tanaman. Ia menjadi mati kalau terlalu banyak air atau terendam banjir.

Kedua, meningkatkan sense of crisis dan kepekaan sosial. Orang yang lapar lebih peka terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain. Ini berarti, lapar itu dapat menumbuhkan jiwa penolong dan solidaritas sosial. Bahkan, menurut Ghazali, lapar itu mengingatkan kita pada siksa dan azab akhirat, sehingga kita lebih tergugah untuk memperbanyak ibadah dan amal shaleh.

Ketiga, mencegah dorongan syahwat dan nafsu amarah. Menurut al-Ghazali, sumber dan energi syahwat itu adalah makan dan minum. Oleh sebab itu, orang yang mengurangi makan dan minum, ia akan mampu mengendalikan nafsu syhawatnya. Lalu, seperti umum diketahui, orang yang mampu mengendalikan nafsunya, ia akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan, dan sebaliknya orang yang dikendalikan oleh nafsunya, ia akan binasa dan celaka. Inilah menurut Ghazali, keutamaan terbesar dari lapar.

Di samping itu, terdapat keutamaan lapar yang lain lagi, yaitu terbukanya peluang dan kekuatan ibadah di malam hari. Dikatakan, orang yang kenyang atau kekenyangan, akan mudah terserang oleh rasa kantuk dan tidur, sedangkan orang yang lapar atau sedikit makan dan minum, ia pasti tahan bangun dan melek malam.

Inilah sesungguhnya makna firman Allah, ”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam, mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzariyat [51]: 17-18). Wallahu A’lam!

2 comments Oktober 26, 2006

Muhammad Asad tentang Alquran

Republika 17/10/16 Di antara mufassir Alquran kontemporer, almarhum Muhammad Asad patut dicatat sebagai salah seorang yang paling terkemuka. The Message of the Qur’an barangkali merupakan magnum opus (karya besarnya) yang dikerjakan seumur hidup dengan menetap di Arabia selama beberapa tahun. Terjemahan tafsir yang aslinya setebal hampir 1.000 halaman ini ke dalam bahasa Indonesia akan diterbitkan Mizan dalam tempo dekat ini. Dengan munculnya karya Asad dalam versi Indonesia, maka bertambahlah literatur tafsir Kitab Suci umat Islam ini.

The Message diterbitkan pertama kali oleh Dar al-Andalus, Gibraltar, 1980, dan telah dipakai oleh puluhan universitas di seluruh dunia yang ingin mengenal lebih jauh tentang sumber utama ajaran Islam. Dengan penguasaan bahasa Arab, termasuk dialek-dialek lokal, Asad dengan The Message-nya tidak diragukan lagi telah memberikan sumbangan yang sangat berharga kepada khazanah ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Dalam suasana Nuzul Alquran ini ada baiknya kita menurunkan beberapa pandangan Asad tentang Kitab Suci ini sebagaimana dapat dibaca dalam kata pengantar tafsirnya itu. Kita kutip: ”Antara ayat pertama dan terakhir terkembang lebarlah sebuah kitab yang, melebihi gejala lain manapun yang kita kenal, telah memengaruhi secara fundamental sejarah agama, sosial, dan politik dunia. Tidak ada kitab suci lain yang pernah memiliki dampak langsung serupa atas kehidupan orang yang pertama kali mendengarkan pesannya dan, via mereka dan generasi yang mengikutinya, atas seluruh arus peradaban.” (Hlm i).

Asad dan banyak sarjana Barat lain telah sama sampai kepada kesimpulan bahwa tanpa Alquran tidak akan ada gerakan Renaisans di Eropa yang kemudian mendorong munculnya abad ilmu pengetahuan yang berlanjut sampai hari ini. Menurut Asad, tafsir ini mungkin yang pertama dalam sebuah bahasa Eropa dengan menggunakan pendekatan yang bersifat idiomatik (hlm v).

Menurut Asad, pertanyaan kunci yang hendak dijawab Alquran adalah: ”Bagaimana semestinya saya berperilaku agar meraih kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan dalam kehidupan yang akan datang?” (Hlm i). Pertanyaan Asad ini sebenarnya tidak lain dari doa yang hampir selalu kita ucapkan: ”Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan bebaskan kami dari siksa neraka.” (Al-Baqarah: 201). Jika kita konfrontasikan pertanyaan Asad ini dengan realitas kehidupan umat Islam sekarang, jawaban yang diberikan sebegitu jauh masih belum juga mengenai sasaran. Kitab Suci ini belum kita jadikan sahabat utama dalam perjalanan. Dalam perlombaan peradaban kita keok, nasib di akhirat pun penuh tanda tanya. Alquran memang masih dibaca dan bahkan diperlombakan, tetapi suasana dunia Islam, menurut pantauan saya, sangat tidak bersahabat dengan gambaran yang diberikan Kitab Suci ini, yaitu sebuah corak kehidupan yang adil, sejahtera, dan bebas, sebagai realisasi dari surat Al-Anbiya: 107 berupa rahmatan li al-’alamin (rahmat bagi semesta alam). Jangankan menebarkan rahmat Allah di muka bumi, kita sendiri tampaknya sudah sulit membedakan mana jalan lurus yang harus ditempuh dan mana pula jalan bengkok yang harus dihindari. Alquran di depan kita tidak lagi berfungsi sebagai alfurqan (kriterium pembeda) antara jalan yang benar dan jalan yang salah.

Tetapi, kita tentu percaya bahwa kita tidak akan terus terpasung di lorong sempit yang pengap ini. Setelah berabad-abad menderita kena pukulan palu godam sejarah, lambat atau cepat kesadaran menyeluruh di berbagai bagian dunia Islam untuk sebuah pencerahan pasti akan datang. Syaratnya, inisiatif untuk ”memancing” perhatian Tuhan harus senantiasa dilakukan, berupa kerja-kerja kreatif yang berani untuk melawan suasana kebekuan. The Message Muhammad Asad adalah di antara langkah strategis untuk menuju kebangkitan umat secara otentik, sebuah ummatan wasathan (umat medium, tidak ekstrem), seperti yang terbaca dalam Al-Baqarah: 143. Asad menerjemahkannya dengan a community of the middle way (komunitas jalan tengah, hlm 30). Semoga kita semua akan bergerak menuju ummatan wasathan itu sekalipun banyak gangguan dalam perjalanan. Amin.

(Ahmad Syafii Maarif )

1 comment Oktober 26, 2006

Sejahtera dan Damai

Iman Sugema
Inter CAFE, Institut Pertanian Bogor

Republika 16/10/06 Komite Hadiah Nobel akhirnya mengeluarkan keputusan yang sangat mengejutkan yakni memberikan Nobel untuk bidang perdamaian kepada seorang ekonom yang bernama Muhammad Yunus dari Bangladesh. Dikatakan mengejutkan karena biasanya hadiah ini lebih kerap dianugrahkan kepada mediator perdamaian dan aktivis HAM. Selain itu, apa yang dikerjakan Profesor Yunus sama sekali tak ada kaitan langsung dengan perdamaian.

Yunus adalah seorang ekonom yang membidani Grameen Bank, sebuah lembaga keuangan yang menyalurkan kredit mikro kepada penduduk miskin terutama perempuan. Tak ada ide yang begitu revolusioner yang dibuahkannya. Yunus sendiri mengakui bahwa ia hanya menerapkan hal-hal yang sangat sederhana. Yang menjadi revolusioner adalah dampak dari gerakan yang dimotori Yunus terhadap kehidupan kaum papa. Selama seperempat abad lebih, ia dan teman-temannya menggugah dunia dalam memerangi kemiskinan melalui tindakan nyata dan bukan konsep yang muluk-muluk.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang membuat Yunus menjadi sangat spesial sehingga mengalahkan kandidat lain yang justru secara langsung berkutat dengan masalah perdamaian? Apa hubungan kemiskinan dengan perdamaian? Kenapa Yunus tidak dihadiahi Nobel di bidang ilmu ekonomi? Berikut ini, mungkin merupakan beberapa catatan penting yang bisa menjawab pertanyanan di atas.

Pertama, kesejahteraan hampir selalu berdampingan dengan kedamaian. Itulah sebabnya kita selalu menyatukan kedua kata tersebut, damai sejahtera. Kesejahteraan tak akan pernah tercipta tanpa adanya perdamaian. Kedamaian tak punya arti apa-apa tanpa kesejahteraan. Karena itu, upaya pengentasan kemiskinan adalah merupakan bagian dari memaknai sebuah perdamaian.

Amartya Sen – pemenang Nobel ekonomi – menyatakan bahwa kemiskinan merupakan sebuah bentuk keterbelengguan (unfreedomness). Walaupun diberikan demokrasi dan kebebasan yan seluas-luasnya, orang miskin tak akan mampu menikmatinya. Mereka terbelenggu oleh himpitan kehidupan. Persoalannya, mereka tak memiliki kemampuan untuk mentransformasikan demokrasi menjadi kesempatan ekonomi.

Selain itu, fakta empiris juga menunjukan bahwa konflik horizontal dan pemberontakan lebih sering terjadi di negara-negara miskin. Kemiskinan rupanya banyak terkait dengan tindakan kekerasan. Konflik di negara yang demokratis dan sejahtera menjadi lebih terkelola. Sebaliknya, di negara miskin sering terjadi secara berkepanjangan dan tidak mudah diselesaikan.

Hal ini menimbulkan sebuah paradigma baru yakni pendekatan kesejahteraan akan mampu menciptakan perdamaian di dunia ini, walaupun tak bisa dijamin seratus persen. Kesejahteraan merupakan common interest bagi individu maupun kelompok yang hidup di suatu negara. Jika common interest ini tidak bisa terwujud atau hanya dinikmati oleh sebagian pihak saja, maka akan timbul luka sosial yang dalam.

Kedua, Yunus telah menunjukan bahwa tanggung jawab mengatasi masalah kemiskinan tidak hanya ada di pundak pemerintah. Semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi sesuai dengan kapasitasnya. Peranan pemerintah di Grameen Bank relatif sangat minimal. Grameen Bank lebih mirip sebuah gerakan swadaya masyarakat dari pada sebuah lembaga keuangan formal pada umumnya.

Yunus telah bisa menunjukan bahwa sesama orang miskin sekalipun bisa saling membantu. Penduduk miskin dimandirikan untuk bisa menolong dirinya sendiri dan menolong tetangganya. Dalam pandangan Yunus tidak ada dikotomi antara kaya dan miskin. Tak penting juga apakah orang kaya akan secara sukarela ‘membantu’ kelompok miskin. Bagi Yunus yang terpenting adalah bagaimana memerdekakan orang dari kemiskinan. Dalam kacamata Yunus, isu terpenting adalah kemiskinan absolut dan bukan kemiskinan relatif. Kemiskinan relatif hanya menjadi relevan ketika kemiskinan absolut sudah teratasi.

Ketiga, memerangi kemiskinan adalah sebuah pekerjaan besar yang perlu dilakukan secara sistematis dan konsisten. Terlalu banyak dari kita yang meremehkan ide dasar Grameen Bank yang teramat sederhana. Ya, memang betul idenya sangat sederhana dan tak sulit untuk difahami. Tetapi yang tersulit adalah melaksanakan ide tersebut dalam jangka waktu yang lama dan mentransformasikannya menjadi sebuah gerakan sosial. Dengan cara ini dua hal bisa tercapai sekaligus: 1) penduduk miskin dapat tertolong dan 2) upaya tersebut tidak menimbulkan beban anggaran bagi pemerintah.

Bisa kita sarikan bahwa pengentasan kemiskinan tidak harus memakai duit pemerintah. Yang terjadi di Indonesia justru sangat menyedihkan. Uang pemerintah dihabiskan untuk membiayai berbagai macam program anti kemiskinan dan bahkan sebagiannya dibiayai dari pinjaman luar negeri, tapi tetap saja kemiskinan tak tertangani dengan baik. Sudah uang habis dan malah kemiskinan bertambah.

Sudah saatnya kita mengambil pendekatan non-konvesional. Yunus telah menunjukan bahwa pengentasan kemiskinan dapat ditempuh melalui gerakan sosial yang bersifat masal. Pembangunan juga pada intinya adalah menggerakan masyarakat untuk melakukan pembangunan. Tampaknya inilah yang kurang kita sadari di era reformasi ini. Hampir tak ada program ekonomi yang mampu menggerakan masyarakat. Setiap saat kita mengeluh dan pesimis terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah.

Sebagai penutup, Yunus bukanlah ekonom yang canggih dalam berteori. Tetapi ilmunya menjadi lebih bermanfaat dibanding profesor ekonomi paling beken di dunia. Apakah ekonom Indonesia siap menyusul?

1 comment Oktober 26, 2006

Kang Ngalwi Ingin Lebaran Bareng

Republika 16/10/06 Senin lalu U-un mengemukakan gagasan yang termasuk baru yakni menentukan jatuhnya awal dan akhir Ramadhan dengan cara mengikuti keputusan ulama di Mekah. Menurut U-un, dengan cara itu umat Islam di Indonesia tinggal makmum saja.

Sebab pengalaman selama ini sering terjadi perbedaan awal maupun akhir Ramadhan yang tidak masuk akal dalam ukuran logika yang jujur dan sederhana. Masa iya, umat yang mengaku punya Tuhan, agama, nabi, kitab, bahkan tinggal di kampung yang sama bisa berbeda hari dalam melaksanakan shalat Id? Apa yang salah?

U-un mengaku telah mendapat dukungan dari beberapa orang, baik yang disampaikan secara lisan maupun melalui pesan singkat. Dan karena merasa mendapat dukungan seperti itu U-un jadi lebih bersemangat. Kemarin malam sehabis shalat tarawih U-un meminta orang-orang mendiskusikan kembali tema berlebaran dengan keputusan politik yang disampaikannya Senin kemarin. Namun sebelum berbicara lebih jauh U-un mengatakan, ada syarat penting agar gagasannya bisa menjadi kenyataan dan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.

“Pertama, kita harus mau bergeser sedikit dari pemahaman keagamaan yang teramat legal-formalistik ke arah esensialitas ajaran. Maka dalam hal ini kita diharap bisa memaklumi bahwa sebenarnya kualitas puasa kita tidak terletak pada fikih tetapi pada keikhlasan dan internalisasi ruhnya. Dengan demikian penentuan awal dan akhir Ramadhan bukanlah sesuatu yang mutlak, melainkan sesuatu yang sederhana dan lentur; selentur sabda Kanjeng Nabi, Berpuasalah kalian bila sudah melihat bulan, dan berbukalah kalian bila sudah melihat bulan. Sabda Kanjeng Nabi ini, mau difahami secara tekstual (rukyah) maupun hisab tetap terasa kelenturannya. Yang penting jangan ada orang berpuasa selama 28 atau 31 hari.”

“Tapi Un –saya mencoba mengritisi pikiran anak yang tidak tamat STAIN ini. Di zaman komputer ini perhitungan falakiyah bisa mencapai akurasi yang sangat tinggi sehingga bisa sampai kepada kebenaran obyektif. Bahkan posisi bulan seribu tahun yang akan datang bisa diukur dengan tepat pada hari ini. Jadi apa maksud kelenturan yang kamu maksud?”

“Itu betul. Pada detik tertentu posisi bulan dari suatu titik di bumi memang bisa diukur setepat-tepatnya. Masalahnya, ketepatan pengukuran itu pun hanya valid untuk sebuah titik tertentu di bumi. Kalau kita mau bicara mutlak-mutlakan, bila titik itu bergeser satu meter saja ke arah timur atau barat, perhitungannya harus diubah. Demikian juga dengan pengamatan bulan secara langsung. Pengamatan di suatu tempat hanya valid untuk satu titik di tempat itu. Ketika Kanjeng Nabi mengeluarkan sabda di atas, konteksnya adalah (titik) negara Madinah yang tidak terlalu luas.”

“Jadi bagaimana halnya dengan umat Islam Indonesia yang menempati wilayah amat luas dan membujur dari barat ke timur? Dengan wilayah yang demikian luas umat Islam Indonesia tidak akan bisa menentukan hasil hisab maupun rukyah secara mutlak untuk seluruh tempat. Jelasnya, hasil rukyah/hisab di Sabang misalnya, sesungguhnya tidak falid untuk Merauke.

He-he-he, itulah yang saya maksud dengan kelenturan tadi. Dan di sinilah perlunya keputusan politik seluruh umat Islam Indonesia untuk menentukan hari lebaran. Caranya? Ya itu tadi; tinggal makmum ke Mekah. Sungguh tidak repot dan lebih dekat kepada ruh Islam yang sangat menjunjung nilai ukhuwah.”

“Ya, itu yang saya suka,” tiba-tiba Kang Ngalwi ikut bicara. Apalagi bila kelak bisa dikembangkan demikian rupa sehingga bukan hanya umat Islam Indonesia yang makmum ke Mekah soal hari lebaran, melainkan seluruh dunia. Kita akan menjadi umat yang kompak, tidak tercerai-berai seperti sekarang ini. Dan terus terang, soal menentukan lebaran ini kita sudah capek, bosan, karena kita sering terjadi perbedaan pendapat yang sesungguhnya tidak perlu.”

“Iya,” ujar Fadli, “Apalagi bila di antara kita sudah saling berebut kebenaran, wah sungguh memalukan. Contohnya begini; yang lebaran belakangan bilang, masih Ramadhan kok sudah lebaran? Itu haram. Sebaliknya, yang lebaran lebih awal bilang, sudah Syawal kok masih puasa? Itu haram. Dan itu bisa terjadi antartetangga. Apa tidak benar-benar konyol? Lebih konyol lagi kalau ada orang yang maunya puasa mengikuti yang belakangan dan lebaran ikut yang duluan, lalu menimpakan tanggung jawab kekonyolannya kepada para pemimpin.”

“Tapi,” sambung Fadli. “Masalahnya memang tidak mudah. Gagasan U-un meskipun amat baik, tapi terlalu idealis. Barangkali U-un lupa banyak di antara kita, termasuk pemimpin umat, sudah lama terkena penyakit keturunan yang bernama egoisme sektarian. Dr Nurcholish Madjid almarhum, menyebutnya sebagai penyakit WTS alias waton sulaya atau yang penting berbeda. Tidak jarang perbedaan sengaja dipelihara bukan untuk dicari hikmahnya sebagai rahmat melainkan sebagai sarana untuk membangun jatidiri dan kebanggaan sektarianisme. Jadi, saya tidak yakin gagasan U-un yang baik itu bisa menjadi kenyataan.”

“Ya, saya juga berpendapat demikian,” Saya menyambung. “Sebab masih banyak orang yang merasa mampu mencapai kebenaran tertinggi, mutlak dan tunggal, dan karena itu mereka tidak bisa menyediakan ruang untuk kebenaran yang diyakini oleh orang lain. Meskipun demikian gagasan U-un itu sebaiknya tetap kita tawarkan kepada masyarakat, terutama dari golongan muda.”

“Ya, bagaimanapun pendapat kaum awam seperti Kang Ngalwi jelas benar. Bahwa lebaran yang tidak bareng membuat rasa tidak nyaman. Dengan demikian apakah para pemimpin Islam tidak ingin mencari penyelesaian yang bisa diterima semua pihak? Bila ingin, alhambulillah. Bila tidak dan tetap ngotot dengan kebenaran masing-masing, ya sudah. Mau apa wong mareka malah merasa beribadah lebih mantap dengan adanya perbedaan itu meskipun umat awam menganggapnya sebagai kekonyolan.” Mendengar keluhan saya, Kang Ngalwi bangkit. Dia kecewa berat.

( )

Add comment Oktober 26, 2006

Budaya Konsumtif

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS Al-Isra’ [17]: 26).

Firman Allah SWT ini sangat penting untuk dihayati dan diamalkan oleh kita yang menjalankan ibadah puasa. Karena, meski di bulan Ramadhan kita dapat menahan lapar dan dahaga, namun acapkali tak mampu untuk menahan diri dari sifat boros. Padahal salah satu hikmah ibadah puasa adalah momentum untuk membuang sifat konsumtif dan secara simultan menumbuh-kembangkan kepedulian muslim yang mampu terhadap kaum dhuafa.

Begitu mudah kita terjangkit penyakit gila belanja (shopaholic). Budaya boros ini menjangkiti hampir semua lapisan usia di Tanah Air. Anak-anak lebih mementingkan pulsa telepon selular ketimbang menabung untuk keperluan sekolah. Ibu rumah tangga terlalu banyak belanja untuk make up, perhiasan, perabotan, dan makanan. Sementara kaum bapak bergaya hidup mewah demi gengsi.

Puasa sejatinya menanamkan etos penyadaran bagi manusia untuk mengukur dan mengendalikan diri, agar kehidupannya dapat lebih terarah, produktif dan bermakna bagi dirinya serta sesama umat manusia.

Perenungan ini mutlak diperlukan, agar puasa tidak hanya menjadi rutinitas ibadah tahunan tanpa makna. Jangan sampai di bulan Ramadhan kita justru bertambah boros daripada bulan-bulan yang lain. Sementara pesan puasa yang menuntut kita untuk bersedekah dan berbagi kelebihan kepada sesama malah terlupakan.

(Rokhmin Dahuri )

Add comment Oktober 26, 2006

Idul Fitri, Kemenangan (untuk Siapa?)

Oleh Abd A’la

Kompas 23/10/06 Idul Fitri kembali tiba. Seperti sebelumnya, para khatib shalat id biasanya berkhotbah. Isinya, umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh adalah termasuk yang kembali ke fitrah, terlahir kembali dalam keadaan suci. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang memperoleh kemenangan.

>newarea 1< Dalam konteks Indonesia kini, pertanyaan menggugat di balik khotbah yang sudah mentradisi itu adalah kebenaran ungkapan terkait fenomena kehidupan yang kini menggejala kuat.

Fitrah adalah kesucian sikap dan perilaku yang lahir dari pengembangan ketakwaan. Intinya, kemampuan seseorang untuk konsisten ada dalam moralitas luhur yang berdimensi individual dan sosial. Dalam realitas, kondisi semacam itu masih jauh panggang dari api.

Di berbagai daerah, krisis kehidupan terus mendera masyarakat, sebagian besar akibat degradasi moral dan ulah kejahatan mereka. Sebagai contoh, di Jambi beberapa waktu lalu, asap tebal menaburkan polusi udara hingga ke negara tetangga. Di Sidoarjo, lumpur panas belum tertangani tuntas, dan gizi buruk melanda anak balita kita yang justru banyak didapati di Jakarta. Belum lagi kasus-kasus hukum seperti pembunuhan Munir yang kian gelap.

Kasus-kasus semacam ini—jujur saja—salah satu penyebabnya muncul dari kekurangpedulian kita terhadap sesama dan lingkungan hingga derajat tertentu akibat keserakahan dan sikap kita yang mau enak dan menang sendiri. Konkretnya, keberagamaan yang kita jalani—khususnya dalam pelaksanaan puasa dan Idul Fitri—belum mampu menjadikan diri kita manusia yang benar-benar “beragama” yang mampu mengubah menjadi fitri.

Tidak ada perubahan

Melihat kenyataan itu, perubahan signifikan dalam diri, mulai puasa hingga Idul Fitri, tampaknya belum terjadi. Ibadah puasa—seperti Idul Fitri—lebih menunjukkan nuansa ritual formalistik, bahkan telah berkembang menjadi kegiatan mentradisi yang kurang menukik ke makna substantif di balik kegiatan itu.

Sebagian (besar) umat Islam Indonesia agaknya terpaku pada kesemarakan ibadah. Aktivitas ritual yang terkait puasa terkesan terbingkai dalam nuansa pesta. Begitu pula shalat malam tarawih, bernuansa pesta, malam nuzulul Quran sebagai ajang yang berbau pesta, Idul Fitri juga sebagai hari berpesta. Bahkan, tak cukup dengan semua itu, mereka menutup rangkaian ibadah dengan pesta besar dalam bentuk lain, halalbihalal.

Mungkin tidak berlebihan jika kita menyebut semua aktivitas itu sebagai sesuatu yang kental dengan warna pesta karena berbagai dimensinya mewujudkan diri dalam makna dan hakikat pesta. Dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan itu, polanya ditekankan pada hal-hal yang penuh gaung, penampilannya terkesan branded dalam pengertian luas, dan prosesnya benar-benar seremonial semata.

Sejalan dengan itu, sebagian Muslim Indonesia hanya memikirkan hal-hal besar dan bersifat struktural. Mereka melupakan persoalan-persoalan kecil yang sejatinya menjadi persoalan keseharian umat, dari pemiskinan yang terus berlangsung di sekitarnya hingga kekerasan dalam berbagai bentuk (kultural, struktural, dan langsung) yang sejatinya berakar dari diri sendiri.

Ada anggapan, melalui kerja besar, persoalan-persoalan yang kecil pasti hilang sendiri. Mereka belum menyadari, agenda besar masih bersifat bangunan besar yang belum ada isinya selain angan-angan.

Dari individual ke sosial

Akibatnya, dari tahun ke tahun puasa dan Idul Fitri datang silih berganti, tetapi kondisi umat secara khusus dan bangsa secara keseluruhan belum mengarah pada perbaikan substantif berarti.

Realitas buram semacam itu senyatanya perlu menjadi perhatian umat Islam Indonesia. Jangan sampai umat Islam terperangkap ke dalam buaian keberhasilan puasa formal yang bersifat fisik semata, tidak menjadikannya sebagai puncak kemenangan yang hanya diakhiri dengan aktivitas semacam pesta.

Untuk itu, sebuah terobosan yang sama sekali tidak baru perlu dilakukan. Puasa—sebagaimana sering kita dengar—adalah ibadah yang amat individual yang hanya pelaku dan Tuhan semata yang mengetahui kesungguhan dia dalam melakukannya.

Pada sisi ini, pelaku puasa perlu menjadikannya sebagai sesuatu yang bermakna bagi kehidupan masing-masing ke depan.

Melalui puasa, kita perlu membuat program perbaikan kehidupan setahap demi setahap menuju pencapaian ketakwaan hakiki. Artinya, setahun ke depan pascapuasa kali ini, mereka harus meniscayakan adanya perubahan ke arah perbaikan satu poin meningkat dari sebelumnya. Tahun berikut, dikembangkan menjadi dua poin, demikian seterusnya.

Sejalan dengan itu, setiap umat Islam perlu melakukan pengamatan dalam bentuk refleksi diri yang berkesinambungan mengenai keberhasilan atau kegagalan proses yang mereka jalani dengan penuh ketulusan dan kejujuran.

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau sebaliknya, umat Islam membuat indikator yang jelas dan akurat dalam dimensi individual dan sosial. Konsistensi penegakan moralitas luhur dari kejujuran yang bersifat individual hingga pengembangan sikap yang mencerminkan keadilan dan kesetaraan yang bersifat sosial mutlak dijadikan entitas menyatu dalam indikator keberhasilan.

Semua itu bukan sesuatu yang besar dan sulit dilakukan. Yang diperlukan adalah kesungguhan. Kita jadikan Idul Fitri sebagai awal menuju transformasi sikap dan perilaku, bukan sekadar puncak kemenangan yang menjadi akhir proses.

Abd A’la Alumnus Pesantren Anuqayah Sumenep; Anggota National Board pada International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta

1 comment Oktober 26, 2006

Mudik Eksistensial

Oleh Ahmad Khoirul Fata

Kompas 23/10/06 Mudik menjadi ritus tahunan bangsa ini, dan Idul Fitri menjadi momen tepat pelaksanaan tradisi itu.

Meski menghabiskan banyak biaya, waktu, dan tenaga, ratusan ribu manusia bersedia melaksanakan ritual itu. Jauhnya jarak tidak menjadi hambatan bagi perantau untuk kembali ke daerah asal. Hanya ada satu tujuan di benak mereka; kembali ke tanah asal, kampung halaman.

Peristiwa mudik tidak bisa dilepaskan dari Idul Fitri dan Ramadhan. Kedekatan mudik dengan Idul Fitri terefleksikan pada kesamaan makna keduanya. Idul Fitri terdiri dua kata: ayd (kembali) dan al-fitrah (kesucian, sifat primordial manusia). Makna ini amat dekat dengan mudik berarti kembali ke (daerah) asal.

Menurut Seyyed Hossein Nasr (2003), secara hakiki manusia memiliki sifat primordial yang tertanam kuat dalam lubuk jiwa tiap insan. Sifat itu berupa kesaksian atas keesaan Tuhan (tauhid). Lebih jauh, Nasr melihat pada dasarnya manusia memiliki kemampuan intelegensia yang secara naluriah dapat menerima tauhid. Dengan potensi inilah manusia dapat mengenal Tuhan dan bertindak sesuai amanat Tuhan. Namun, yang perlu diingat adalah, manusia juga dibekali Tuhan potensi berkehendak yang dapat mendorong manusia melakukan tindakan. Potensi ini disebut sebagai al-nafs (nafsu).

Kedua potensi itu secara laten berdinamika dalam diri manusia. Di satu sisi, intelegensia mengajak kepada sifat ketuhanan, tetapi di sisi lain, nafsu mendorong ke arah sebaliknya.

Pertarungan dua unsur itu terus terjadi sepanjang usia manusia. Kemenangan satu potensi atas yang lain berarti pewarnaan perilaku dan pribadi seseorang sesuai orientasi sang pemenang. Karena itu, Nasr berkesimpulan, wahyu dan agama diperlukan manusia guna memindahkan dan mengusir selubung nafsu agar intelegensia dapat berfungsi tepat.

Adanya orientasi yang berbeda tidak lepas dari materi awal penciptaan manusia: tanah liat dan ruh. Tanah adalah simbol kegelapan, berorientasi pada kesenangan duniawi dan mewujud menjadi tubuh jasmani manusia, sedangkan ruh merupakan napas Tuhan yang ditiupkan ke jasmani manusia. Karena berasal dari Tuhan secara langsung, ruh memiliki sifat-sifat ketuhanan dan disimbolkan sebagai cahaya. Dua unsur itu secara filosofis digambarkan dengan perpaduan Yin dan Yang dalam ajaran Taoisme.

Dalam konteks ini, Islam mengajarkan, di awal penciptaannya manusia masih didominasi unsur cahaya dalam dirinya. Dominasi itu ditegaskan dalam Al Quran berupa perjanjian antara manusia dan Tuhan di alam rahim (QS Al-A’raf 172). Karena itu manusia oleh Nabi Muhammad disebut lahir dalam keadaan fitrah, kondisi primordial manusia dalam dominasi cahaya ketuhanan.

Namun, seiring berjalannya waktu, dominasi cahaya menjadi kian pudar dan digantikan oleh dominasi unsur kegelapan. Manusia pun mulai melalaikan perjanjian itu dan terperangkap dalam rutinitas hidup sehari-hari.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menggambarkan kondisi itu bagai debu-debu yang menempel di cermin. Dan, pribadi yang ada di bawah dominasi kesenangan duniawi disebutnya sebagai al-nafs al-amarah; jiwa yang mendorong manusia pada ketidaktaatan kepada Tuhan.

Ikatan kesamaan mudik dengan Idul Fitri terletak pada upaya manusia untuk kembali ke asal muasalnya. Pengelanaan manusia dalam rimba kehidupan membuat unsur cahaya gelisah dan akhirnya memberontak. Ujung kegelisahan itu mewujud kerinduan kepada Yang Asal.

Serupa dengan itu, kerelaan para pemudik menempuh jarak jauh untuk kembali ke kampung halaman merupakan wujud kerinduan mereka kepada asalnya setelah sekian lama terlalaikan karena kesibukan kerja.

Pribadi baru

Peristiwa mudik dan Idul Fitri diharapkan memberi spirit baru kepada manusia agar menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Proses itu telah disiapkan matang oleh Tuhan dengan meletakkan Idul Fitri setelah bulan Ramadhan.

Keberadaan Ramadhan sebelum Idul Fitri memiliki hikmah sebagai “mesin cuci” kepribadian manusia agar bersih dari noda kehidupan yang menempel. Dalam konteks ini, Ramadan didesain Tuhan untuk menghilangkan dominasi materi dalam jiwa manusia dengan berbagai praktik pengekangan hawa nafsu dan ritus-ritus ibadah.

Dalam bahasa tasawuf, dikenal tiga proses kembali kepada Tuhan; pengosongan diri dari berbagai dosa (takhalli), pemenuhan diri dengan amal yang baik (tahalli), dan puncaknya kembalinya sang hamba kepada Tuhan (tajalli). Di puncak ini, manusia telah bertransformasi dari pribadi yang didominasi kegelapan alam materi menjadi pribadi yang dipenuhi cahaya ketuhanan. Pribadi model inilah yang disebut Ibnu ’Arabi dan al-Jilli sebagai al-insan al-kamil (the perfect man).

Meski demikian, saat berada di puncak transformasi itu, manusia harus segera kembali kepada kehidupan asalnya untuk membagi cahaya ketuhanannya kepada lingkungannya. Kewajiban berzakat dan bersilaturahmi dalam menyambut Idul Fitri adalah bukti keharusan kembali itu.

Dalam artian ini, sang insan kamil tidak boleh egois menenggelamkan diri dalam pencerahan itu. Pencerahan yang diperoleh harus dibuktikan olehnya dengan berbagai aksi pencerahan masyarakat sekitar. Ia harus menjadi transformator masyarakat, bukan petapa yang tenggelam dalam rimba kesendirian.

Pencerahan yang transformatif secara apik termodelkan oleh Rasul Muhammad pada peristiwa Isra Mi’raj. Meski telah berada di puncak pencerahan persatuan dengan Tuhan di sidrat al-muntaha, sang nabi tetap kembali ke dunia untuk membebaskan masyarakatnya dari kegelapan dunia (jahiliah).

Ahmad Khoirul Fata Alumnus Magister Filsafat Islam (M.Fil.I) IAIN Sunan Ampel Surabaya

Add comment Oktober 26, 2006

Previous Posts


Calendar

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category