Betapalah Hina Kami Ini

Oktober 26, 2006

Dr Muhammad Husain Haekal menulis begitu indah tentang kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, terjemahan Ali Audah, menulis, ”Muhammad adalah contoh kekuatan jiwa yang indah sekali atas kehidupan ini, suatu kekuatan yang membuat dia sudah tidak peduli memberikan segala yang ada padanya kepada orang lain. Itulah sebabnya, sampai ada orang yang mengatakan: Ketika memberi, Muhammad sudah tidak takut kekurangan ….”

Diceritakan dalam buku yang telah 31 kali cetak itu, apabila makan Muhammad tak pernah sampai kenyang. Ia tak pernah makan roti dari tepung gandum dua hari berturut-turut. Sebagian besar makannya berupa bubur, pada hari lain ia makan kurma. Ia sering menahan lapar. Bukan sekali Muhammad mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan teriakan rongga pencernaannya.

Begitu juga dengan berpakaian, Muhammad –seperti ditulis Haekal– sangat sederhana. Pakaiannya yang terdiri baju luar dan baju dalam terbuat dari katun atau sebangsa serat. Bukan dia tidak memiliki baju tenunan, namun seharian dia lebih suka mengenakan baju sederhana. Suatu kali, seseorang memberikannya baju bagus, namun saat bersamaan baju itu diminta oleh orang lain untuk dijadikan kafan. Rasulullah memberikannya dengan ikhlas. Rasulullah selalu tersenyum dan mudah memaafkan. Rasulullah lebih dahulu memberikan salam dan lebih dahulu menjulurkan tangan bersalaman. Ketika makan, Rasulullah mengajak pembantunya. Ia juga mengurus orang lemah, orang miskin, dan menderita. Rasulullah tak pernah menolak orang yang minta bantuannya.

Sebagai seorang pemimpin yang dimuliakan semua golongan di Madinah, Rasulullah tak segan-segan menambal sendiri pakaiannya yang robek, menjahit sendiri terompahnya, dan bahkan mencuci pakainnya sendiri. Beliau berbagi tugas dan tak ingin menyusahkan orang lain.

Dalam suatu majelis, Rasulullah tak mau orang-orang berdiri menyambutnya. Soal ini, Rasulullah berkata, ”Jangan kamu berdiri seperti orang asing yang mau saling diagung-agungkan.” Ketika duduk pun, Rasulullah tidak memilih tempat. Rasulullah juga senang bergurau. Ia juga sangat sayang pada hewan. Apabila ada kucing di luar rumah, Rasulullah sendiri yang bangun dari tidur untuk membuka pintu bagi kucing itu. Saat Rasulullah melihat istrinya Aisyah menarik-narik unta secara paksa, Rasulullah menegurnya, ”Hendaklah berlaku lemah lembut.”

Sebagai utusan Allah, menurut Haekal, Nabi Muhammad bersikap sangat tegas, berpegang pada prinsip, namun ia tidak ingin memperlihatkan diri sebagai orang yang berkuasa, sebagai raja, atau pemegang kekuasaan duniawi. Ia bukan orang yang lemah dan suka menyerah. Sifat kasih sayangnya itu, bersih dari pamrih dan tinggi hati. Haekal menyimpulkan: ”Ini adalah persaudaraan dalam Tuhan, antara Muhammad dan semua mereka yang berhubungan dengannya. Di sinilah dasar peradaban Islam yang berbeda dengan sebagian besar peradaban lain. Islam menekankan pada keadilan di samping persaudaraan itu, dan berpendapat bahwa tanpa keadilan, persaudaraan tidak mungkin ada.”

Haekal terampil menuturkan keindahan akhlak Rasulullah yang memang sangat indah itu. Rasulullah adalah teladan sempurna, dalam ketegasan prinsip, kelemah-lembutan, tutur kata yang indah, kasih sayang, dan keadilan serta persaudaraan.

Di bulan suci Ramadhan yang segera berakhir ini, setelah mengetahui akhlak mulia Rasulullah, sebaiknyalah kita merenung dalam-dalam: Apakah kita memberi untuk mendapatkan; mengambil keuntungan dari anak-anak yatim dan orang miskin; menjadi hamba dari harta, kekuasaan, dan hawa nafsu? Dapatkah kita berlemah-lembut, santun, dan adil pada setiap orang –bahkan kepada hewan sekalipun?

Di mana kita, ketika orang-orang miskin menadahkan tangannya meminta-minta, ketika anak-anak yatim terpaksa pindah agama karena ketidakmampuannya, ketika ibu-ibu kekeringan air susu untuk bayinya akibat kemiskinan membelitnya?

Di mana kita, ketika kekerasan dianggap sebagai jalan penyelesaian; orang-orang membentak dan berkata kasar; membunuh atas nama agama; mengambil harta yang bukan haknya?

Ya Allah, kami telah menjadi orang-orang tersesat, memilih hawa nafsu dan kesombongan. Padahal kami mengakui Muhammad sebagai utusan-Mu, yang memerintahkan kami mengikuti jalannya yang indah; besikap lemah lembut, tolong-menolong, adil, dan tak boleh menyakiti. Betapalah hina kami ini, bangga memakan kotoran sendiri.

(Asro Kamal Rokan )

Entry Filed under: Iqra. .

1 Comment Add your own

  • 1. *darr  |  Maret 27, 2008 at 8:41 pm

    post yg bagus, terima kasih

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts