Perbedaan Idul Fitri 1427 H
Oleh Hendro Setyanto
Kompas 23/10/06 Lebih dari 14 abad, penanggalan hijriah belum menemukan tata aturan unik. Tiap negara, bahkan organisasi massa, masing-masing mempunyai aturan penanggalan hijriah. Tidak heran jika perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri bulan-bulan hijriah, seperti Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, terus terjadi hingga kini.
Secara astronomis, kalender hijriah dikelompokkan sebagai penanggalan bulan. Siklus Bulan menjadi dasar perhitungan bulan dan tahun. Siklus itu bukan kesepakatan, tetapi ketetapan Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW. Inilah yang membedakan kalender hijriah dengan penanggalan lain. Maka, penggunaan siklus fase Bulan tidak pernah diganti dengan sistem perhitungan waktu lain.
Meski demikian, Nabi Muhammad SAW tidak merumuskan sistem penanggalan hijriah secara rinci. Tiadanya rumusan rinci memberi pintu lebar bagi ulama untuk berijtihad dalam membuat sistem penanggalan hijriah. Namun, rumusan yang dihasilkan dari ijtihad individu atau kelompok hingga hari ini menghasilkan perbedaan.
Perbedaan
Secara umum, perbedaan yang terjadi dalam sistem penanggalan Hijriah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu perbedaan yang diakibatkan kriteria awal Bulan dan perbedaan natural akibat pergerakan Bulan mengelilingi Bumi.
Beragamnya aturan penanggalan hijriah, khususnya kriteria awal bulan, mengakibatkan terjadinya perbedaan dalam mengawali atau mengakhiri awal bulan hijriah.
Perbedaan kriteria yang digunakan Muhammadiyah, Persis, dan NU, misalnya, tidak akan pernah melahirkan titik temu selama masing-masing pihak bersikukuh dengan kriteria yang dianut. Ironisnya, perbedaan itu diakibatkan perbedaan penafsiran dasar hukum yang sama dan sering kriteria itu berubah.
Perbedaan dalam menentukan kriteria awal bulan tentu saja berbeda dengan persoalan khilafiyyah lain, seperti jumlah rakaat Tarawih serta Qunut karena permasalahan itu mengacu pada dua dasar hukum yang berbeda.
Perbedaan penafsiran semacam ini salah satunya dapat dijembatani jika masing-masing pihak mau berbesar hati untuk sepakat menentukan kriteria awal bulan dan diikuti secara konsisten.
Meski menggunakan kriteria awal Bulan yang sama, bahkan untuk seluruh dunia sekalipun, perbedaan dalam sistem penanggalan hijriah akan tetap ada. Perbedaan itu diakibatkan garis batas tanggal Bulan yang bersifat dinamik. Hal ini akan mengakibatkan Ramadhan (atau bulan hijriah lainnya) pada tahun yang sama berumur 29 hari di suatu daerah, tetapi berumur 30 hari di daerah lain.
Persoalan ini dapat diatasi dengan adanya garis batas tanggal yang disepakati bersama.
Persoalan dalam penanggalan hijriah, salah satunya, dapat diatasi dengan membuat kesepakatan akan tata aturan penanggalan hijriah selama tidak melanggar landasan hukum (Al Quran dan hadis).
Di sini persoalan hukum fikih diposisikan untuk melihat aturan apakah melanggar kaidah hukum atau tidak, bukan ditempatkan untuk menentukan tata aturan penanggalan sendiri berdasar ijtihad fiqiyah. Mengingat sifatnya, yang ijtihadiyah tentu akan penuh dengan perbedaan.
Mempersulit diri
Berkenaan dengan penanggalan Islam, ada beberapa petunjuk sederhana dan mudah dipahami masyarakat awam sekalipun. Dalam beberapa hadis, diungkapkan, satu bulan hijriah terdiri atas 29 atau 30 hari, yang pada awal bulan ditandai dengan terlihatnya (rukyat) hilal. Dan, berdasar Al Quran, satu tahun terdiri atas 12 bulan.
Sabda tentang rukyat hilal tentu saja mengacu pada pengertian melihat dengan mata secara langsung. Pasalnya, tidak mungkin Nabi Muhammad SAW meminta umatnya untuk merukyat dalam pengertian menghitung, sementara umatnya banyak yang tidak dapat membaca dan menulis, apalagi menghitung posisi hilal.
Karena tidak dapat menghitung posisi hilal, bisa jadi posisi hilal harus mudah diamati oleh seorang badui sekalipun. Dengan demikian, amat beralasan jika kriteria ketinggian hilal yang dikeluarkan ulama seperti al-Khwarizmi, Ibn Tariq, umumnya mendekati angka 10 derajat (bandingkan dengan kriteria yang dipakai Departemen Agama RI, sebesar dua derajat).
Tidak dapat dimungkiri, perkembangan ilmu falak (astronomi) berpengaruh terhadap kriteria ketinggian hilal. Perhitungan yang kian akurat memungkinkan seseorang untuk mengetahui lokasi penampakan hilal sebelum hilal terlihat.
Perkembangan alat optik memungkinkan seseorang melihat obyek dengan mata secara lebih baik. Hal ini akan berdampak pada kriteria penampakan hilal yang ujungnya berhubungan dengan kriteria awal bulan.
Selama konsep baku sistem penanggalan hijriah belum ditemukan, perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri hari bulan-bulan hijriah akan senantiasa terjadi.
Dalam kasus awal Syawal tahun ini, misalnya, berdasar kriteria Imkan rukyat, Departemen Agama dapat menetapkan awal Syawal 1427 H bertepatan dengan tanggal 24 Oktober 2006 karena posisi hilal tidak memenuhi syarat minimal penampakan hilal yang dianut pemerintah. Akan tetapi, jika posisi hilal di atas kriteria yang diyakini, awal Syawal haruslah menunggu hasil pelaksanaan rukyat, apakah pelaksanaan rukyat memperoleh hasil ataukah tidak. Di sini diperlukan sidang isbat untuk mencari kemufakatan bersama agar perbedaan dapat diminimalkan.
Hendro Setyanto Observatorium Bosscha FMIPA ITB; Anggota Lajnah Falakiyyah PBNU
Add comment Oktober 26, 2006
Berlebaran di Tengah Penderitaan
Oleh Zuhairi Misrawi
Kompas 21/10/06 Hakikatnya, Idul Fitri atau Lebaran adalah hari kemenangan, hari kebahagiaan. Namun, kenyataannya, kebanyakan masyarakat merayakannya dalam penderitaan dan duka mendalam.
Lalu bagaimana seharusnya Idul Fitri dirayakan dalam konteks keindonesiaan yang sedang dilanda kemelaratan ini?
Abdul Ghani al-Nabulsi dalam Ta’thir al-Anâm fî Tafsîr al-Ahlâm menjelaskan, barangsiapa sedang merayakan Idul Fitri, sebenarnya ia sedang keluar dari kesedihan menuju kesenangan dan kemudahan. Karena itu, berlebaran di tengah lumpur porong, penggusuran pedagang kali lima, kabut asap, konflik sosial, dan realitas kemiskinan sedikit banyak telah kehilangan maknanya.
Tanggung jawab pemerintah
Di sini, Lebaran harus dijadikan spirit pembebasan. Hakikatnya, saat beduk Lebaran ditabuh dengan gegap-gempita, mestinya tidak ada lagi orang-orang yang berpangku tangan dan meneteskan air mata karena tak ada yang bisa dimakan.
Dalam hal ini, ada dua kelompok yang bertanggung jawab atas implementasi hakikat Idul Fitri. Pertama, pemerintah sebagai penanggung jawab dan penyelenggara amanat rakyat. Pemerintah seharusnya menjadikan momentum Idul Fitri sebagai saat untuk membahagiakan masyarakat. Harus ada capaian yang terukur perihal realitas kemiskinan yang melanda negeri ini. Sayang, angka kemiskinan bukan menurun, tetapi justru bertambah. Dalam hal ini, harus diakui Lebaran tahun ini tidak memenuhi hakikat yang terkandung dalam Idul Fitri. Bahkan, yang terjadi sebenarnya adalah penyimpangan hakikat Idul Fitri karena kemenangan dan kebahagiaan yang dirasakan masyarakat adalah kebahagiaan semu, kebahagiaan sesaat. Sesaat setelah Lebaran, mereka akan merasakan penderitaan sebagaimana hari-hari sebelum Lebaran. Korban penggusuran merasakan pahitnya kehidupan kota. Korban lumpur merasakan betapa sedihnya kehilangan tempat tinggal dan lain-lain.
Di sini, pemerintah harus menjadikan Lebaran tidak hanya sebagai komoditas politik dan ekonomi. Lebih dari itu, Lebaran sebagai pertanggungjawaban publik untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan publik yang memihak rakyat sehingga masyarakat menyambut Idul Fitri tidak dengan tangisan dan kesedihan, tetapi dengan kebahagiaan terutama untuk masyarakat yang tidak mampu. Dengan demikian, perayaan Idul Fitri seharusnya dijadikan momentum untuk mengubah kondisi obyektif masyarakat dari kemelaratan menuju kebahagiaan.
Kewajiban pemuka agama
Kedua, pemuka agama sebagai panutan masyarakat. Dalam hal ini, pemuka agama harus mampu memberikan pesan yang semestinya tentang peran agama pada ranah sosial.
Harus diakui, kebanyakan ulama dan penceramah tidak melakukan peran yang semestinya. Misalnya, menghadapi masalah lumpur di Porong, Sidoarjo, para ulama yang selama ini mengklaim menjaga umat dari hal-hal yang menyesatkan tidak berbuat hal-hal yang berarti bagi pembelaan rakyat lemah. Tidak banyak penceramah yang menyinggung korban lumpur Porong, terutama dalam hal membela masyarakat yang menjadi korban.
Oleh karena itu, kritik dan sorotan perlu ditujukan kepada mereka yang nyata-nyata pasif dalam membela korban lumpur Porong. Dalam hal ini, independensi dan visi para ulama untuk membela kepentingan rakyat yang lemah masih jauh dari harapan. Kebanyakan pemuka agama dan penceramah menyodorkan materi ceramah yang tidak kontekstual dan tidak visioner. Mereka mempunyai agenda tersendiri di balik ceramahnya, yang sudah bisa dipastikan tidak sejalan dengan apa yang sebenarnya menjadi harapan umat.
Umumnya, para penceramah mengajak masyarakat untuk bersabar. Namun, persoalannya, sejauh mana kesabaran masyarakat bisa bertahan jika para ulama dan penceramah tidak memerhatikan nasib umatnya? Ada ustadz yang berceramah tentang pentingnya sedekah dan kedermawanan. Namun, lagi-lagi, ceramahnya sebatas bagaimana menggugah kesadaran bersedekah, sedangkan bagaimana sedekah itu didistribusikan dan untuk kelompok mana saja tidak disinggung, apalagi dipraktikkan.
Di sinilah, hari raya Idul Fitri harus benar-benar digunakan sebagai titik untuk menggugah kesadaran elite dan pemuka agama tentang pentingnya mengubah penderitaan menuju kemenangan dan kebahagiaan.
Yang dimaksud perubahan di situ bukan sekadar karitatif dan sloganistik, tetapi perubahan yang bersifat sistemik dan praksis. Apa yang sudah dilakukan Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006 asal Banglades, patut dijadikan teladan. Ia lahir dan hadir untuk mengubah hidup orang-orang miskin.
Bangsa ini akan maju dan mampu keluar dari krisis jika mampu mengubah kondisi obyektif masyarakat yang sarat kemelaratan dan penderitaan menuju masyarakat yang mempunyai harapan untuk bertahan hidup dan bangkit dari keterpurukan. Apabila Muhammad Yunus bisa, mengapa para pemimpin dan pemuka agama kita tidak bisa?
Harus diakui, untuk menciptakan itu semua, bukan hal mudah. Upaya yang bertujuan mengubah wajah kemiskinan tidak semudah membalikkan kedua tangan. Dibutuhkan spirit kuat dan langkah strategis sehingga aneka upaya perubahan dapat mencapai sasaran dan target yang semestinya, yaitu masyarakat miskin.
Oleh karena itu, digunakan perspektif partisipatoris, bukan perspektif statistik yang sering bersifat manipulatif. Bangsa ini akan maju apabila muncul orang- orang yang dapat merasakan penderitaan yang dialami masyarakat dan mau melakukan perubahan sebagaimana dilakukan Muhammad Yunus.
Dalam hal ini, Idul Fitri yang di dalamnya sarat makna tentang kembali ke fitrah, yang di dalamnya ada makna pentingya memanusiakan manusia, harus mampu memberi makna yang relevan dengan konteks keindonesiaan.
Para pemimpin dan pemuka agama harus mau membuka mata dan nurani untuk melihat penderitaan rakyat, sembari melakukan hal-hal yang berarti bagi perubahan. Spirit seperti itu amat ditunggu-tunggu masyarakat.
Imam al-Dumayri dalam Hayât al-Hayawân al-Kubrâ menegaskan, Idul Fitri merupakan hari kasih sayang. Yang kuat harus mengasihi yang lemah. Yang kaya harus mengasihi yang miskin. Para pemimpin harus mengasihi rakyatnya. Para pemuka agama harus mengasihi umatnya. Yang mayoritas harus mengisi pihak yang minoritas.
Tanpa langkah-langkah itu Idul Fitri hanya akan menjadi seremoni dan ritual keagamaan yang berlalu tanpa makna. Apabila itu terjadi, krisis multidimensi yang dihadapi bangsa ini akan berkepanjangan tanpa adanya sentuhan spiritual.
Selamat berlebaran, semoga Lebaran tahun depan kita lebih bahagia, terbebaskan dari penderitaan dan kemelaratan.
Zuhairi Misrawi Intelektual Muda NU; Penggagas Lingkar Muda Indonesia
Add comment Oktober 26, 2006
Idul Fitri “atawa” Lebaran
Oleh A Mustofa Bisri
Kompas 21/10/06 Hari Idul Fitri di Indonesia mungkin berbeda dengan Idul Fitri di negeri-negeri lain. Di Indonesia terasa lebih meriah bahkan dari hari raya Kurban yang sering disebut juga hari raya Akbar.
Di Indonesia, Idul Fitri juga sering disebut Lebaran. Perayaannya tak cukup hanya sehari. Di beberapa daerah orang merayakannya hingga sepekan. Bahkan, bila kita hitung acara-acara halalbihalalnya, bisa sebulan penuh.
Eloknya lagi, hari Idul Fitri di Indonesia tidak hanya dirayakan oleh kaum Muslim, tetapi melibatkan hampir seluruh masyarakat.
Indonesia dan Mesir
Sebagai perbandingan, Idul Fitri di Mesir. Pemandangan di sana hanya orang ramai melakukan shalat id, lalu rombongan keluarga-keluarga berpiknik mengunjungi taman-taman atau kebun binatang untuk makan bersama.
Di Indonesia, setelah melakukan shalat id, masyarakat melakukan silaturahmi, saling mengunjungi, dan bermaaf-maafan. Untuk yang terakhir ini, bahkan dilakukan oleh mereka yang sengaja datang dari tempat-tempat yang jauh, terutama perantau yang sekalian mudik meninjau keluarga. Kebiasaan silaturahmi ini tidak hanya dilakukan antarkeluarga, tidak hanya antarkaum Muslim, tetapi juga antar-RT, RW, instansi, dan lainnya.
Tampaknya, di hari raya ini, dada orang-orang terasa lebih lapang. Orang yang paling keras sekalipun, dalam suasana Lebaran, tiba-tiba mudah meminta maaf dan memaafkan. Hal ini boleh jadi karena bagi kaum Muslim khususnya, ada rasa plong, terlepas dari dosa-dosa hasil ketulusan mereka berpuasa selama satu bulan.
Memang ada hadis Nabi SAW yang menyatakan, “barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan hanya mengharap ganjaran Allah, orang itu akan diampuni dosanya yang dilakukan sebelumnya”.
Namun, kesalahan yang dilakukan manusia bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada sesama hamba, dan ini rupanya amat disadari para pendahulu kita yang mula-mula mentradisikan silaturahmi Lebaran. Dengan asumsi dosa-dosa kita yang langsung kepada Allah telah diampuni oleh-Nya, bukan berarti semua dosa telah tuntas diampuni.
Ada dosa-dosa lain yang—paling tidak menurut saya—lebih gawat dan sulit, yaitu dosa-dosa kepada sesama. Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan Allah jauh lebih enak ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Dosa kita kepada-Nya, sebesar apa pun jika disesali dan kita mohonkan ampun, akan diampuni-Nya. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristigfar; menghapus dosa; bersembahyang menghapus dosa; berpuasa menghapus dosa; berbuat baik menghapus dosa; dan banyak lagi.
Berbeda dengan manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kekhilafan yang tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Untuk meminta maaf atau memaafkan, orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.
Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan waswas atau menimbulkan masalah di antara kita. Sementara terhadap sesama manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan gawatnya dosa antarsesama.
Menghormati sesama
Imam Muslim (817-865 M), misalnya, meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah (w 676 M), sebuah hadis perlu direnung-perhatikan. Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Atadruuna manil muflis?” “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab, “Pada kita, yang namanya orang bangkrut adalah orang yang tak punya lagi uang dan barang.”
Rupanya bukan itu yang dimaksud Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Innal-muflisu min ummatii man ya’tii yaumal qiyaamah bishalaatin….” “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang di hari kiamat membawa shalat, puasa, dan zakat, sementara sebelumnya dia telah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, memukul ini. Maka kepada si ini diberikan dari ganjaran kebaikan-kebaikan orang itu dan kepada si itu diberikan dari ganjaran kebaikan-kebaikannya. Apabila habis ganjaran kebaikan-kebaikan orang itu sebelum semua tanggungannya terlunasi, maka akan diambil dosa-dosa mereka yang pernah disalahinya dan ditimpakan kepadanya, kemudian orang itu pun dilemparkan ke neraka.” Nauzubillah.
Hadis ini dengan jelas mengingatkan, kita tidak boleh hanya mengandalkan amal ibadah ritual, sementara secara sosial kita tidak berlaku hati-hati terhadap sesama. Tidak sedikit di antara kita orang tertipu, tanpa sadar, karena telah bersembahyang, berpuasa, berzakat, dan berhaji, merasa diri sudah dekat dengan Allah, bahkan ada yang keterlaluan merasa diri wakil-Nya, lalu seenaknya memperlakukan sesama hamba Allah. Dengan mudah mencaci maki, memukul, menuduh, melukai, merampas hak, dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama.
Banyak yang lupa, penilaian terakhir orang pantas disebut hamba saleh yang mendapat rida Allah dan memperoleh surga, semata-mata ada di tangan Allah.
Menurut firman-Nya dalam Al Quran, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan menghormati. Yang paling mulia di antara mereka di sisi-Nya ialah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Dan siapa yang paling takwa, hanya Allah yang mengetahui. Bukan kita.
Nah, tradisi Lebaran yang khas di negeri kita ini sudah sepatutnya dicerdasi sebagai sesuatu yang memiliki nilai lebih. Lebaran untuk melebur dosa kita terhadap Allah sekaligus terhadap sesama. Dengan demikian, bisa diharapkan diri-diri kita menjadi kembali bersih dari segala dosa. Kembali ke fitrah, untuk kemudian berusaha menjaga kebersihannya dengan menjaga pergaulan dan hubungan baik kita, baik dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama hamba-Nya.
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin!
A Mustofa Bisri Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah
Add comment Oktober 26, 2006
Ada Apa dengan (Dua) Hari Raya?
Oleh Syaifullah Amin
Kompas 21/10/06 Berakhirnya bulan Ramadhan merupakan saat yang dinanti- nanti umat Muslim, terutama di Indonesia.
Maka, warga Muhammadiyah bersorak saat pimpinan pusat- nya menyatakan hari raya Idul Fitri jatuh lebih awal dari yang dijadwalkan. Idul Fitri yang disemboyankan sebagai hari kemenangan segera disongsong.
Keputusan Muhammadiyah melalui Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin untuk berlebaran hari Senin (23/10)—dengan menghitung bulan Ramadhan hanya 29 hari—merupakan bentuk kemandirian umat. Landasan hisab falakiyyah (hitungan astronomi) hasilnya sering berbeda dengan fakta lapangan yang didasarkan rukyat hilal (melihat bulan sabit pergantian bulan).
Perbedaan
Perbedaan ini disebabkan hilal (bulan sabit) seharusnya sudah tampak, sebagaimana argumen matematis ahli hisab (yang mengandalkan hitungan perputaran bulan dan bumi atas matahari), tetapi tidak seorang pun di antara tim ahli rukyat (yang lebih memilih melihat langsung kejadian di lapangan) melihatnya atau mereka berbeda pendapat mengenai posisinya. Fenomena demikian memang bukan hal baru di Indonesia. Hari raya Idul Fitri bisa berbeda bagi tiap kelompok masyarakat Muslim.
Dua kubu besar ini, yakni tim ahli hisab dan para perukyat, sering berbeda pendapat mengenai penetapan hari raya.
Banyak argumen klasik yang dikemukakan dan budaya saling bantah tak pernah dapat ditinggalkan. Namun, tak pernah sedikit pun terjadi pergeseran sikap menuju perbaikan pemahaman (baca: persatuan) di antara sesama kelompok Muslim. Alih-alih berusaha menenggang perbedaan, yang terjadi justru menegaskan batas dan identitas masing-masing untuk menunjukkan eksistensi diri dan kelompok.
Sebenarnya bisa saja terjadi dua hari raya di Indonesia, baik secara matematis ilmiah maupun kebenaran sakral doktrin agama, mengingat panjang bentang wilayah Nusantara dari wilayah timur di Papua hingga ujung barat pantai Aceh. Namun, kenyataannya, di Indonesia belum pernah terjadi dua hari raya Idul Fitri dengan alasan wilayah geografis. Justru yang selalu terjadi adalah ada dua hari raya dengan alasan ideologis, antara orang-orang yang konon disebut tradisional dan mereka yang mengklaim diri Muslim modern atas dasar fanatisme demi menjaga prestise golongan.
Selama 29 atau 30 hari
Sebagaimana diakui Din Syamsuddin, sebenarnya di beberapa wilayah, tentu saja yang lebih barat seperti Pulau Jawa dan Sumatera, hilal (kemunculan bulan sabit) belum dapat terjadi. Hanya saja, karena alasan politis (kekuasaan), ormas merasa berhak menyatukan hari raya dengan mengesampingkan peran negara yang tentu saja tidak asal-asalan.
Bias ideologi inilah yang menarik dipertanyakan, mengapa lebih memilih menyatukan dua hitungan hari daripada menjaga obyektivitas matematis ilmiah dan mengesampingkan persatuan umat Muslim Indonesia.
Di sisi lain, masyarakat Muslim tradisional cenderung lebih suka memilih kehati-hatian dengan sering menggenapkan hitungan Ramadhan menjadi 30 hari. Dalam hal ini, mereka mengedepankan substansi hadis Fain ghumma ’alaikum faakmilul ’iddah (jika penglihatan pada hilal terhalang, hendaknya kalian menggenapkan hitungan).
Sederhananya, rasio doktrinal adalah, seandainya bulan Ramadhan hanya 29 hari, dapat dianggap telah terjadi suatu kesalahan. Namun, jika yang benar adalah 30 hari dan mereka hanya berpuasa 29 hari, kapankah kekurangannya akan disusulkan? Seperti biasa, masyarakat Muslim tradisional lebih memilih menggenapkannya menjadi 30 hari.
Kebenaran kelompok
Meski validitas dari masing-masing cara, baik rukyat maupun hisab, sangat relatif, hasil ini kemudian diyakini sebagai kebenaran kelompok, lebih dari apa pun. Bahkan, negara pun dianggap tidak berhak melakukan intervensi mengenai penetapan hari raya ini. Negara hanya dapat menentukan kapan para pegawai kantor libur dan bekerja kembali. Selebihnya, mengenai kapan dan di mana shalat Idul Fitri dilaksanakan menjadi wewenang masing-masing lembaga agama.
Uniknya, tradisi berbeda ini diyakini beberapa kalangan sebagai ciri sekaligus cara survive masyarakat Muslim Nusantara dalam melestarikan dan mengembangkan keyakinannya dari masa ke masa.
Akibatnya, turun-temurun kesadaran untuk melestarikan perbedaan pun mengakar. Tidak puas jika hari raya tidak berbeda. Bahkan, pertanyaan di antara sesama kelompok agamawan sering terdengar agak miring, “Apakah hari raya tahun ini akan sama?” atau “Kelompok mana yang berhari raya lebih dulu?”
Siklus “tiga tahunan” ini telah menjadi bagian integral keberagamaan sekaligus simbol abadi keberagaman masyarakat Muslim Indonesia. Pemerintah Orde Baru pun tidak sanggup menyatukan dua keyakinan ini, apalagi fatwa haram MUI yang sering diabaikan daripada ditaati.
Dalam hal ini tidak perlu fatwa haram karena telah dianggap lumrah sebagai perkara furuiyyah semata kendati dalam banyak kitab fiqh, dinyatakan haram berpuasa pada hari raya dan jelas tidak mungkin terjadi dua kali Idul Fitri dalam setahun.
Harapan yang layak dikemukakan adalah, kapankah masyarakat Muslim Indonesia dapat menghargai perbedaan dalam skala lebih luas. Bukan sekadar saling menghargai saat berbeda hari raya, tetapi juga saling menghargai saat berbeda pendapat dari sisi pemahaman keagamaan dan akidah. Mereduksi segala tindak anarkisme dan peminggiran kelompok sebagaimana dapat menghargai perayaan hari raya Idul Fitri yang tidak kompak.
Syaifullah Amin Peneliti Religious and Cultural Studies, Pesantren Ciganjur
3 comments Oktober 26, 2006
Seribu Maaf Anda
Kompas 21/10/06 Apatisme merupakan musuh terbesar bagi setiap demokrasi. Ia berwajah lebih ganas dibandingkan dengan pemberontakan, lebih menjemukan ketimbang sinetron televisi, dan menjadi penyakit yang mengancam kesehatan mental manusia.
Apatisme menjadi ganas karena mudah menyulut kemarahan orang kecil yang hidupnya semakin hari semakin susah. “Ya, nanti tahun 2009 terserah bapak-bapak itulah,” kata Barno, pemijit refleksi langganan saya dengan suara bernada getir.
Apatisme jelas membuat hidup terasa jemu seperti kata lirik lagu Jemu milik Koes Plus. “Kujemu dengan hidupku yang penuh liku-liku/kurasa berat beban hidupku/kerja keras bagai kuda/dicambuk dan didera/semua tak kurasakan/untuk mencari uang.”
Dan apatisme juga mengancam kesehatan jiwa, sama dengan orang yang suka marahmarah menyaksikan kemacetan di jalan-jalan di Jakarta. “Melihat pemerintah sekarang ini sama dengan menunggu band memainkan musik instrumentalia. Vokalisnya enggak njeplak-njeplak,” kata seorang teman.
Apatisme merambah ke mana-mana karena sejak 2004 kita ikut terlibat di dalam lebih dari 100 kali proses penyelenggaraan pemilihan di berbagai tingkat, mulai dari pemilihan lurah sampai presiden/wakil presiden. Kita tak ubahnya seperti pesawat terbang yang mengalami metal fatigue alias “lelah politik” dan sebentar lagi kolaps.
Jangan khawatir ini gejala biasa yang juga terjadi, misalnya, di demokrasi terbesar dan tertua di dunia di Amerika Serikat. Misalnya saja pernah jumlah pemilih yang menggunakan hak mereka hanya di bawah 50 persen saat Ronald Reagan terpilih kembali sebagai presiden pada periode 1984-1988.
Pada masa Orde Baru jumlah pemilih dalam setiap pemilihan umum yang memakai hak mereka tergantung dari stok T-shirt, sembako, atau serangan fajar. Persentase kemenangan Golkar, dalam istilah Pak Adam Malik, “Semuanya bisa diatur.”
Kultur itu belum banyak berubah tahun 2004, kecuali bahwa suara calon-calon eksekutif dan legislatif semakin merdu dan joget mereka semakin mantap. Tidak heran persentase pemilih yang menggunakan hak mereka dalam pemilihan langsung itu mencapai 97 persen.
Gara-gara apatisme, para pemilih mungkin akan kurang antusias menyambut rangkaian pemilihan-pemilihan tahun 2009. Lama kelamaan demokrasi “bukan ujud dari kedaulatan rakyat, bukan diselenggarakan oleh rakyat, dan bukan pula demi kepentingan rakyat”.
Dalam apatisme itu sering terdengar kalimat yang bernada eskapisme, “Ah, masih enakan zaman Soeharto.” Namun, saya selalu mencecar apakah mereka sungguh-sungguh ingin kembali ke masa Orde Baru itu?
Biasanya mereka ragu karena takut membayangkan politik represif ala Orde Baru. Nah, sikap yang ambivalen ini memperlihatkan bahwa sebagian besar rakyat ibaratnya masih “belum cukup umur” dalam memahami demokrasi yang baru seumur jagung ini.
Makanya tak sedikit rakyat yang menuntut hak demokrasi ketimbang menjalani kewajiban sebagai warga yang patuh kepada aturan main. Lihatlah kelakuan para pengguna lalu lintas yang setiap hari main serobot atau para demonstran yang senang terlibat di dalam “perang mobocracy”.
Lebih parah lagi pemahaman para pejabat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif tergolong ke dalam kategori balita. Mereka selalu ingin menjadi pusat perhatian, kerap tiba-tiba terserang penyakit tantrum, dan serba berlepotan.
Tidaklah sulit menunjuk bukti-bukti yang menunjukkan sikap kekanak-kanakan mereka selama dua tahun terakhir ini. Penderita apatisme lebih memilih membawa anak-anaknya ke Hoya Istana Mainan daripada menyaksikan anak-anak di Kompleks MPR menuntut kenaikan gaji melulu.
Oleh sebab itulah saya berkali-kali di rubrik ini menulis demokrasi kita sebenarnya merupakan sebuah keganjilan yang lebih menakutkan daripada acara-acara klenik di stasiun-stasiun televisi kita. Ternyata tak ada hubungan antara aspirasi rakyat dan kebijakan yang ditetapkan eksekutif maupun fungsi pengawasan legislatif.
Sulit menebak apakah kebijakan impor beras menguntungkan atau merugikan petani. Coba terka lagi apa arti teka-teki ini: “Mendiknas memberikan voucher pendidikan kepada Ketua DPR yang melakukan Safari Ramadhan sebagai wakil ketua umum partai politik dia”.
Bingung kan? Makanya janganlah heran kalau rakyatnya membelokkan motornya ke kanan meskipun menyalakan lampu sen untuk nikung ke kiri.
Apatisme semakin mewabah karena tiga cabang kekuasaan menjadi lahan pencari kerja bagi para spekulan politik untuk mengadu untung demi diri maupun partainya. Oktober ini bursa politik dibuka kembali bagi job seekers itu agar ditelepon istana untuk menjadi menteri.
Pepatah mengatakan bekerja itu mulia dan merupakan ibadah. Jadi, apakah rakyat penganggur yang jumlahnya makin banyak bisa disebut tidak semulia dan tidak beribadah seperti politisi-politisinya.
Dulu di masa Orde Baru orang-orang di sekeliling kekuasaan dikontrol ketat oleh kepemimpinan nasional yang kuat dan menancap daya cengkeramnya. Orde Lama memopulerkan istilah Durna untuk menyebut tangan kiri sang penguasa.
Orde Reformasi? Ah, Anda silakan tebak saja.
Tanpa terasa sudah genap dua tahun usia demokrasi kita. Angka dua sangat bermakna karena butuh dua orang untuk berdansa, untuk menikah, atau untuk berlomba.
Juga dibutuhkan dua genggam tangan untuk saling mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Dan rakyat yang apatis pun masih mempunyai persediaan seribu maaf untuk Anda semua yang berkuasa.
Add comment Oktober 26, 2006
Nilai Kebersamaan
Oleh A. Mustofa Bisri
Suara Merdeka 21/10/06 DALAM perjalanan ke Jakarta pada Ramadan, saya mengajak kawan seperjalanan untuk mokak (menghentikan puasa). Kawan saya dengan tegas menolak. Dia menjelaskan, penolakannya itu bukan berarti menolak kemurahan Tuhan bagi kaum musafir, melainkan semata-mata karena dia membayangkan beratnya mengkada (membayar puasa)-nya nanti.
Lho, bukankah mengkada atau membayar puasa nanti, pelaksanaannya juga sama, mulai dari waktu imsak dan buka saat maghrib?
Tidak persis sama. Puasanya memang sama, tapi pelaksanaannya berbeda. Puasa sekarang dilaksanakan ramai-ramai, bersama-sama, sedangkan mengkada puasa tidak demikian. Jadi beban yang berat bila dipikul bersama menjadi ringan, bukan saja mengenai hal yang bersifat fisik.
Kebersamaan bukan saja meringankan beban, melainkan dalam Islam mempunyai nilai ukhrawi yang besar. Banyak sekali ibadah yang ditentukan atau dianjurkan untuk dilaksanakan bersama-sama. Mulai haji, shalat id, salat jumat, hingga salat fardu. Salat fardu berjamaah, dilakukan bersama-sama, pahalanya berlipat 27 derajat dibanding salat fardu sendirian.
Berjamaah shalat sunah tarawih, kalau pun disebut bid’ah karena tidak dilakukan di zaman Rasulullah, ulama menyebutnya bid’ah hasanah dan kaum muslimin sedunia melaksanakannya demikian.
Bahkan dalam salat fardu sendirian, muslim tetap membaca Fatihah -sebagai bacaan wajib- dengan redaksinya yang berbentuk jamak. Kita membaca ”IyyaaKa na’budu wa iyyaaKa nasta’iin, Ihdinaa” (hanya kepadaMulah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami memohon, tunjukkanlah kami); bukan ”IyyaaKa a’budu wa iyyaaKa asta’iin, Ihdinii”, (hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon, tunjukkanlah aku).
Islam memang agama kebersamaan. Rahmatan lil’aalamiin. Dalam Islam tidak dibenarkan orang senang sendirian, apalagi di atas penderitaan orang lain. Islam melarang orang memonopoli rahmat Allah.
Allah memuji mereka yang mementingkan kepentingan orang banyak, apalagi dengan mengalahkan kepentingan sendiri. Allah melaknat mereka yang kekenyangan, sementara tetangganya mati kelaparan. Dambaan umat Islam: bersama-sama bahagia di dunia dan bersama-sama bahagia di akhirat.
Itulah sebabnya, ”wallahu a’lam” Islam mensyareatkan amar makruf dan nahi munkar bagi kebahagiaan bersama, terutama di akhirat, dan mensyareatkan zakat dan sedekah bagi kebahagiaan bersama, terutama di dunia.
Demikianlah, ketika kaum muslimin merayakan ”kemenangan”, mereka dalam pelatihan jihad akbar selama Ramadan; mereka tidak ingin merayakannya sendiri. Apalah artinya pesta -pesta kemenangan sekali pun- yang hanya dinikmati sendiri dan mengabaikan orang-orang lain yang sekadar menutup rasa lapar mereka pun tak mampu?
Hanya orang yang kurang akal dan sakit nuraninya saja yang tega berpesta, sementara saudara-saudaranya menderita.
Dalam puasa, sedikit-banyak kita telah merasakan sendiri betapa menderitanya lapar dan haus sesiang hari. Tidakkah hal itu meluluhkan perasaan kita bagi ikut merasakan penderitaan mereka yang lapar dan haus hampir setiap hari? Kita telah berpuasa bersama-sama; marilah kita rayakan Idul Fitri ini bersama-sama pula. Marilah kita tunaikan zakat fitrah, hanya sekitar dua setengah kilo gram dari milik kita. Di samping untuk nambeli, kalau-kalau masih ada kekurangan dalam pelaksanaan puasa kita, juga agar tidak ada saudara kita yang lapar, minimal dalam hari raya ini.
Alangkah bahagianya membagi rahmat Allah kepada sesama. Alangkah bahagianya merayakan pesta kemenangan bersama seluruh saudara. Alangkah bahagianya menghuni surga bersama-sama dengan seluruh saudara.
Selamat Hari Raya Fitri. Marilah kesalahan-kesalahan di antara kita, kita lebur di hari bahagia ini, setelah memohon ampunanNya. Ja’alanaaLlahu minalíaaidiin wal faaiziin. (46a)
- KH A Mustofa Bisri, budayawan dan pengasuh Ponpes Raudlathuth Thalibien, Leteh, Rembang.
Add comment Oktober 26, 2006
Idul Fitri dan Makna Kesucian Diri
Oleh Abdul Choliq Dahlan
Suara merdeka 23/10/06 TANPA terasa Idul Fitri segera tiba. Hari Kemenangan yang dinantikan oleh kaum Muslim yang telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Adakah makna yang lebih dalam dari semua itu selain perayaan dan ritual tahunan?
Idul Fitri sejatinya mengandung makna jauh lebih dalam. Kesucian-diri kaum Muslim tidak hanya ditentukan oleh keberhasilannya menahan hawa nafsu, haus dan lapar selama satu bulan, tetapi juga ditentukan oleh kesediaannya untuk meminta maaf dan memberikan hak kepada kaum miskin dan papa yang berhak menerimanya.
Idul Fitri juga merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki sikap dan cara beragama kita yang mungkin selama ini kurang pas dan kurang memberi manfaat bagi orang lain.
Psikolog Gordon W. Allport menyebutkan adanya dua sikap keberagamaan manusia: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live.
Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri dan gengsi.
Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, berdoa, berhaji, dan sebagainyaótetapi tidak di dalamnya. Menurut Allport, cara beragama seperti ini erat kaitannya dengan penyakit mental. Cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, cara beragama seperti inilah yang agaknya telah menjerumuskan bangsa kita dalam kubangan kebencian, dendam kesumat, konflik, irihati, dan fitnah.
Sedangkan cara beragama yang kedua, yang intrinsik, dianggap oleh Allport bisa menunjang kesehatan jiwa manusia dan kedamaian masyarakat. Orang yang beragama dengan cara ini memandang agama sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidupnya. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor).
Dalam konteks keberagamaan intrinsik inilah masyarakat yang damai dan penuh kasih sayang bisa diwujudkan karena dengan cara beragama seperti ini kita bisa melakukan tazkiyyah al-nafs (penyucian diri, penyucian jiwa). Konsep tazkiyyah al-nafs (atau penyucian-diri) antara lain bisa ditemukan dalam ayat Alquran yang menyatakan, “Sungguh, bahagialah orang yang menyucikan jiwanya” (Q.s. Asy-syam/91:9).
Kata kunci yang digunakan ayat ini adalah zakka yang berarti menyucikan, tetapi dalam bentuk intransitif bisa juga berarti tumbuh dan berkembang. Menurut Djohan Effendi (1991), Alquran sangat mengagungkan prinsip-prinsip “penyucian moral” dan pengembangan-diri dalam kehidupan seorang beriman.
Dalam ungkapan tazkiyyah al-nafs, terkandung pengertian dan gagasan tentang: (satu) usaha-usaha yang bersifat pengembangan diri, yaitu upaya mewujudkan potensi-potensi manusia menjadi kualitas moral yang luhur (akhlaq al-karimah). Dua, usaha-usaha yang bersifat pembersihan dan penyucian diri, yaitu upaya untuk memelihara diri dari kecenderungan immoral (akhlaq al-sayyiíah).
Dengan demikian, tazkiyyah al-nafs adalah proses perkembangan jiwa manusia, proses pertumbuhan, pembinaan dan pengembangan akhlaq al-karimah (moralitas yang mulia) dalam diri dan kehidupan manusia. Dalam proses perkembangan jiwa itulah terletak falah (kebahagiaan), yaitu keberhasilan manusia dalam memberi bentuk dan isi pada keluhuran martabatnya sebagai makhluk yang berakal budi.
Pengejawantahan
Mohammad Iqbal menyatakan bahwa esensi dari proses perkembangan jiwa adalah pertumbuhan, pembinaan, dan pengembangan nilai-nilai akhlaq al-karimah dalam diri dan kehidupan kita sebagai manusia. Oleh karenanya, akhlak adalah kualitas moral yang khas manusiawi dan bahkan merupakan esensi utama dari kemanusiaan kita.
Dalam akhlak itu tercermin jiwa kita sebagai makhluk jasmani dan rohani. Dalam kehidupan akhlak itu, kita menyatakan diri memberi bentuk dan isi pada wujud kejadian sebagai makhluk yang diciptakan dalam keadaan ahsan taqwim.
Tanpa akhlak kita kehilangan esensi kemanusiaan, tanpa akhlak kita akan hidup dan berada di dunia sebagai manusia tanpa kemanusiaan, sebagai makhluk asfala safilin.
Akhlak atau kesadaran moral pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kemampuan-kemampuan maknawi kita sebagai manusia yang bersifat intelektual dan spiritual. Dalam kehidupan praktis, kesadaran moral mewujudkan diri dalam bentuk hati nurani (dhamir, a conscience).
Alquran menyebut hati nurani sebagai potensi kesadaran moral manusia (al-nafs al-lawwamah), seperti diungkapkan dalam ayat, Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesal” (Q.s. Alqiyamah/75: 2).
Dalam Alquran, orang yang shalat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, riya dalam amal, dan tidak mau menolong sesama manusia. Dalam hadis lain, diriwayatkan tentang orang muflis (orang bangkrut) pada hari kiamat, yang kehilangan seluruh pahala shalat, puasa, dan hajinya karena merampas hak orang lain, menuduh yang tidak bersalah, atau menyakiti sesama manusia.
Insan Kamil
Dalam Islam, tazkiyyah al-nafs tidak bisa dilakukan dengan menyendiri di gua atau mengasingkan diri dari masyarakat. Sebaliknya, tazkiyyah al-nafs harus dilakukan seiring antara kekhusukan mendekatkan diri dan ketundukan pada Tuhan dengan kepedulian dan kesediaan untuk berbagi dengan masyarakat di sekitar kita.
Edward Mortimer (1985) menyatakan bahwa Islam lebih banyak menekankan dimensi sosial ketimbang dimensi ritual, sehingga ia melihat Islam sebagai a political culture. Islam memandang bahwa kehadiran agama di dunia ini dimaksudkan untuk mengubah masyarakat (al-nas) dari berbagai kegelapan menuju cahaya; dari zhulumat kepada al-nur.
Ia datang bukan untuk membenarkan statusquo, tetapi ia datang untuk memperbaiki statusquo.
Alquran menyuruh kita untuk saling menolong, sebab dengan cara itulah kita dapat membangun masyarakat manusia bukan dengan dasar kesamaan dan keseragaman, melainkan atas dasar kehendak dan niat baik di antara segenap kelompok masyarakat dan individu yang berbeda. Sebagai individu dan bagian dari masyarakat, kita berkewajiban mewujudkan kehendak dan niat baik tersebut pada seluruh umat manusia, tanpa membedakan asal-usul keturunan, agama, ras, warna kulit, maupun golongan sehingga bisa mendekatkan kita dengan cita-cita menuju insan kamil.
Insan kamil adalah sebuah proses pencarian manusia menjadi manusia sejati dalam sebuah gerak dinamis dalam masyarakat, bukan pencapaian statis. Dalam proses ini, hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama manusia merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Tanggung jawab untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih manusiawi dan adil terletak pada pundak setiap individu manusia. Oleh karenanya setiap agama menganjurkan sikap aktif dan bukan pasif agar kita secara kreatif menyadari potensi dalam diri kita untuk kemudian mengejawantahkannya dalam perbuatan nyata dan praksis pembebasan demi menegakkan civil society yang kita cita-citakan bersama.
Keberagamaan dan kebersamaan bukanlah dua aspek yang terpisah dan lepas satu sama lain, tetapi harus dilihat dan didudukkan dalam keutuhan hidup manusia yang berlangsung dinamis. “Hidup”, kata Iqbal, adalah “satu dan terus-menerus. Manusia senantiasa bergerak maju untuk selalu menerima cahaya baru dari realitas yang tidak terbatas, yang setiap saat muncul sebagai kemegahan baru.” Dan manusia, sebagai penerima “cahaya Ketuhanan,” bukanlah sekadar penerima pasif. Setiap perbuatan dari ego merdeka akan melahirkan kerja kreatif dan praksis pembebasan manusia dari ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. (11)
— Dr H Abdul Choliq Dahlan MA, ketua umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah Jateng
Add comment Oktober 26, 2006
Kasih sayang mempererat ukhuwah
Oleh KH Abdullah Gymnastiar
Solopos 13/10/06 Saudaraku, dari 114 belas surat dalam Alquran, hanya satu surat saja yang tidak diawali kalimat basmalah, yaitu Alquran Surat at-Taubah (9). Selain Surat at-Taubah, semuanya diawali lafal basmalah.
Apa hikmahnya? Semua yang kita lakukan harus berlandaskan basmalah. Artinya, kita selalu menggantungkan amal perbuatan kita kepada Allah, dan menghiasi amal-amal tersebut dengan kasih sayang. Karena itu, berbicara tentang Islam sama artinya dengan berbicara tentang kasih sayang. Islam adalah agama kasih sayang; agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.
Rasulullah SAW adalah contoh ideal pribadi penuh kasih sayang. Beliau menjadikan basmalah sebagai tempat bertolak. Kalau kita telaah kehidupan Rasul, maka kasih sayang menjadi bagian terpenting pribadinya. Dakwah yang beliau dilakukan adalah dakwah penuh kasih sayang. Dalam Alquran difirmankan, ‘’Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin.” (QS at-Taubah [9]: 128).
Rasulullah SAW memang mengabarkan keindahan Islam kepada manusia dengan landasan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya beliau mampu melembutkan hati yang membatu dan mengubah kebencian menjadi persaudaraan. Mengenai hal ini Allah Swt berfirman, ‘’Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran (3): 159).
Mahasuci Allah, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercabut, maka bisa jadi itulah yang menjadi biang dari segala bencana.
Karena itu, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup dengan limpahan kasih sayang. Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.
Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.
Saudaraku, kasih sayang juga merupakan salah satu pilar yang akan memperkokoh ukhuwah islamiyah. Adakah rasa persaudaraan dapat kita rasakan dari orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang? Tentu saja tidak! Kemuliaan akhlak yang tercermin dalam jiwa yang penuh kasih sayang tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam kalbu yang kusam dan busuk inilah justru tersimpan benih-benih tafarruq (perpecahan) yang mengejawantah dalam aneka bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama Muslim.
Oleh karena itu, agar ruh ukhuwah tetap kokoh kita harus mengevaluasi tentang sejauh mana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki kalbu yang bening bersih dan selamat. Karena, kalbu yang kotor dipenuhi sifat iri, dengki, hasut, buruk sangka, dan jauh dari rasa belas kasih hampir dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang justru dapat merusak ukhuwah.
Lalu, bagaimana agar rasa kasih sayang dapat melekat pada diri kita? Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapkan rumus ”PERHATIAN”. Ya, kita harus lebih PERHATIAN. Maksudnya, kita harus lebih (P)emaaf, (E)mpati, (R)amah, (H)ormat, (A)krab, (T)eduh, (A)man dan (N)yaman.
Pemaaf adalah ciri orang yang memiliki kasih sayang melimpah. Kunci menjadi pribadi pemaaf adalah tidak mudah tersinggung dengan perlakuan orang. Pribadi pemaaf akan memaafkan kesalahan saudaranya sebelum saudaranya itu meminta maaf. Saudaraku, tidakkah kita ingin menjadi pribadi yang dimaafkan Allah? Maka jadilah pribadi pemaaf.
Rumus selanjutnya adalah empati. Orang akan lebih penyayang jika bisa meraba penderitaan orang lain. Apa yang dialami orang lain seakan dialami dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh, ia akan merasa sakit tatkala saudaranya sakit. Begitu pula saat saudaranya bergembira, ia juga akan ikut merasa gembira.
Selanjutnya adalah ramah. Dengan ramah yang disertai muka cerah, orang akan merasa terpuaskan. Saat memberi misalnya. Walau yang kita berikan tidak seberapa, namun dengan keramahan kita, orang yang diberi akan merasa lebih terpuaskan.
Orang pun akan merasa dihargai apabila kita menghormatinya. Sudah menjadi standar bila semua orang untuk senang dihormati dan tidak senang direndahkan, siapa pun dia. Dengan sikap hormat, orang lain akan merasa dihargai dan diakui keberadaannya. Sebenarnya, menghormati orang lain sama artinya dengan menghormati diri sendiri.
Rumus selanjutnya adalah akrab. Keakraban menunjukkan dekatnya ikatan persaudaraan. Persaudaraan tumbuh dari adanya kasih sayang. Buah dari keakraban akan melahirkan keteduhan. Inilah rumus berikutnya. Seorang Muslim harus seperti pohon rindang, di mana para musafir bisa melepas lelah dan orang kepanasan bisa mendapatkan kesejukan.
Pribadi penuh kasih sayang juga akan mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Aman artinya orang lain tidak merasa terganggu bila dekat dengan kita. Dan terakhir adalah timbulnya rasa nyaman. Dalam suasana nyaman, orang tidak hanya merasakan aman, tapi juga merasa senang dan mendapat manfaat.
Dengan demikian, umat Islam harus memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan semangat untuk membangun ukhuwah islamiyah yang kokoh, salah satunya dengan menjaga nilai-nilai kasih sayang seraya menepis remah-remah jahiliyah dari hati ini. Sejalan dengan hal itu, memiliki kalbu yang bersih dan selamat juga harus menjadi ikhtiar kita agar kita mampu mengevaluasi diri dengan sebaik-baiknya dan menatap jauh ke depan agar Islam benar-benar dapat termanifestasikan menjadi rahmatan lil ‘aalamiin dan umat pemeluknya benar-benar menjadi “sebaik-baik umat” yang diturunkan di tengah-tengah manusia. Wallahua’lam.
- KH Abdullah Gymnastiar Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid
Add comment Oktober 15, 2006
Alquran dan agenda transformasi sosial
Oleh Jamal Ma’mur Asmani
Solopos 13/10/06 Tanggal 17 Ramadan adalah hari yang penuh dengan sakralitas-transendental. Hari dimana mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW diturunkan pertama kalinya. Tidak lain adalah Alquran al-Karim sebagai titik tolak perubahan, baik dalam tataran individu Nabi maupun sosial.
Hari ini kemudian terkenal dengan nama Nuzulul Quran (turunnya Alquran). Sejak turunnya wahyu tersebut, Muhammad secara pribadi resmi diangkat menjadi seorang Rasul, utusan Allah dalam menegakkan keadilan, kesetaraan, kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan umat manusia dunia-akhirat.
Peristiwa ini menjadi penambah inspirasi dan motivasi Nabi dalam melakukan agenda transformasi sosial yang sudah direnungkan sejak beberapa bulan terakhir. Nuzulul Quran ini turun ketika Nabi Muhammad sedang melakukan proses takhannus dan kholwat (menyendiri dan berdzikir) di gua Hira’ selama berbulan-bulan. Hal ini selain untuk menyucikan jiwa dari segala kekelaman dan kemaksiatan, juga karena kegundahan Nabi melihat realitas negatif di Mekah yang hampir mencapai titik klimaks, berupa penyiksaan, penganiayaan, penjajahan, dan eksploitasi sumber daya alam dan manusia untuk kepentingan elite.
Nabi sadar dan paham itu, karena Nabi sendiri adalah seorang pedagang aktif yang levelnya sudah mancanegara. Nabi sudah terbiasa membawa barang dagangannya menuju Syam (Siria) dan daerah-daerah lain. Aktivitas ekonomi inilah yang membawa Nabi ke arah pemahaman mendalam mengenai struktur masyarakat Arab yang hegemonik, eksploitatif, dan distortif. Nabi sendiri berasal dari suku Quraiys yang notabene adalah suku elite di Makkah, namun Nabi tidak memanfaatkan prevelege ini untuk menumpuk kekayaan pribadi dengan memeras kaum lemah tertindas. Justru sebaliknya, Nabi ingin mengangkat harkat mereka ke arah yang lebih baik. Namun, karena struktur Arab yang demikian kuat dan sulit ditembus, Nabi merasa tidak mampu melakukan agenda transformasi. Dengan kholwat dan takhonnus di Gua Hiro , Nabi memantapkan langkah dengan sepenuh hati, mencari sumber kekuatan yang mampu memberi inspirasi dan motivasi dalam menghadapi medan perjuangan yang dahsyat ini.
Pesan transformatif wahyu Ada 5 ayat yang pertama kali diturunkan Jibril kepada Nabi, yaitu surat al-Alaq 1-5:30 “Iqra’ Bismi Rabbika al-Ladzi Khalaq, Khalaqa al-Insana Min Alaq, Iqra’ Warabbuka al-Akram, Alladzi Allama bi al-Qalam, Allama al-Insana Maa lamya’lam”, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Lima ayat ini sangat memuat kandungan yang sangat transformatif.
Pertama, membaca. Ia bisa dikatakan sebagai sebuah proses yang mewakili seluruh aktivitas belajar dan pendidikan. Dengan membaca orang akan menemukan pengetahuan, wacana, dan informasi yang kaya yang bisa digunakan untuk merefleksikan diri dan masyarakatnya secara utuh, aktif dan progresif. Orang akan mampu membaca dan mengambil manfaat darinya untuk mengembangkan cakrawala pemikirannya apabila menguasai bahasa tulisan bacaannya. Di sinilah aspek penguasaan bahasa sangat menentukan efektivitas aktivitas ini. Tanpa penguasaan bahasa, lautan ilmu dan informasi tidak akan bisa dimanfaatkan dengan baik. Dus, ia adalahthe best key atau starting point bagi sebuah kesuksesan.
Kedua, menulis. Dalam ayat tersebut Allah dengan jelas mencantumkan kata bil- qalam, dengan pena. Sebagaimana kita pahami, bagaimana besarnya manfaat sebuah tulisan bagi upaya transformasi individu dan sosial. Dengan adanya tulisan lah, warisan peradaban manusia yang paling tinggi berupa ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, dapat diwarisi oleh generasi sesudahnya, dikembangkan dan disebarkan di seluruh penjuru dunia. Alquran sendiri adalah contoh konkretnya. Ia adalah dokumentasi yang sarat akan ilmu yang bisa dibaca oleh siapapun. Tidak hanya kalangan muslim, nonmusim pun banyak yang mengkajinya secara serius. Banyak orang yang meraih gelar prestisius gara-gara mengkaji Alquran dengan pisau analisis ilmiah. Bahkan ada seorang Profesor Jerman yang meneliti ayat min alaq, bahwa manusia diciptakan dari tempat cantolan rahim perempuan. Setelah dia meneliti, akhirnya dia menemukan kebenaran informasi Alquran yang membuatnya masuk Islam. Semua manfaat ini
adalah karena Alquran dapat terdokumentasi dengan baik.
Ketiga, tantangan ilmu. Dengan berani dan tegas, Allah dalam Alquran menantang para ilmuwan tingkat dunia kapan pun dan dimana pun adanya untuk membuat kembaran Alquran satu surat pun. Tentu adalah sebuah tantangan yang sangat luar biasa. Ini untuk menanggapi statemen-statemen minor yang diarahkan sekelompok intelektual Makkah pada Alquran, bahwa ia adalah buatan Muhammad, bukan Kalamullah yang abadi. Namun, fakta dan realita membuktikan. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada seorang ilmuwan tingkat dunia dari daerah atau wilayah manapun yang mampu merespons tantangan Allah yang sarat ilmiah ini. Sekali lagi, ini adalah bukti, bahwa Alquran adalah mukjizat yang sarat ilmu pengetahuan yang tidak habis dikaji kapan pun, di mana pun, dan oleh siapa pun.
Sudah waktunya umat Islam mengambil spirit Nuzulul Qur’an ini untuk melakukan perubahan besar-besaran guna kemajuan bangsa dan negara. Ada beberapa agenda.
Dalam bidang pendidikan, mental dan tradisi membaca, menulis, meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan harus digalakkan secara maksimal. Karena kalau umat Islam kalah berkompetisi dalam bidang ini, niscaya ia akan termarginalkan dalam proses perubahan bangsa dan dunia ini. Secara faktual, budaya baca dikalangan umat ini masih sangat rendah. Salah satu strategi mensukseskan tradisi baca ini adalah menguasai bahasa, khususnyaAarab dan Inggris. Karena tanpa penguasaan kedua bahasa itu, umat Islam akan mengalami keterasingan informasi dan partisipasi. Penting juga dibangun perpustakaan-perpustakaan yang berisi lautan informasi dan pengetahuan lintas agama, Negara, dan disiplin ilmu. Pengayaan ilmu ini diharapkan mampu memperbaiki standar moral dan mental yang saat ini sedang berada di titik nadir oleh gelombang demoralisasi.
Dalam bidang ekonomi, perlu diusahakan upaya kolektif dalam mendinamisasi potensi ekonomi umat demi pemberdayaan ekonomi mereka. Tidak dapat dipungkiri, aspek ini menempati rangking utama persoalan bangsa ini. Karena kemiskinan, mereka tidak mendapatkan pendidikan yang memadai, sehari-hari selalu dicengkram kelaparan dan serba kekurangan. Maka seluruh lapisan masyarakat, harus bahu membahu melakukan agenda pemberdayaan ini. Pemerintah, pengusaha, ormas, LSM, organisasi pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat harus bekerja sama dalam menyukseskan agenda vital ini.
Dalam bidang politik, diperlukan aturan main yang menjamin adanya keterbukaan, kesetaraan, akuntabilitas publik dan keadilan dalam semua aspek kehidupan, sehingga harapan terwujudnya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur (Negara yang indah yang penuh ampunan Tuhan) akan menjadi sebuah kenyataan.
| Jamal Ma’mur Asmani, peneliti Cepdes, center for pesantren and democracy studies, Jakarta, Direktur Lembaga Kajian Al-Hikmah Pati Jateng. |
Add comment Oktober 15, 2006
Jangan Sampai Amal Kita Hangus!
Republika 13/10/06 Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS Asy Syu’araa [26]: 87)
Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.
Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.
Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.
Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya.
Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.
Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.
Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.
Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’araa [26]: 87).
Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.
Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.
Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan–wajib maupun sunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.
Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini. Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.
Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR Muslim).
Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw. menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa’un [107]: 4-6).
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.
( )
Add comment Oktober 15, 2006